Komunis adalah sebuah paham dengan pertanyaannya ‘apa bukti adanya tuhan?’ hendak menghabiskan rasa penghambaan makhluk kepada tuhan. Dianggapnya manusia serupa binatang dahulu lalu dikurangi kemampuan akalnya barulah kemudian kendor perasaan hamba kepada tuhan sampai betul hilang yakin atas adaNya

Sejak dari dulu, tapak tilas kehidupan manusia yang sejatinya lurus tak hentinya digerogoti oleh ajakan ingkar kepada tuhan. Bukan saja ingkar atas titah larangNya, namun jauh ke batas sanubari yakni ingkar atas wujud dan kuasaNya lalu pada ketetapan penciptaan megah alam, pada berjuta ragam makhluknya , pada cipta kesempurnaan wujud manusia yang akhirnya menyentuh dangkalnya penghambaan manusia kemudian menggugurkan urat segala kewajiban hamba kepada tuhannya yang menimbul rasa kemegahan kepada diri sendiri. Sombong

Namun yakinlah seberapa payah pun ia menghindar tiap jiwa yang angkuh tersebut pernah dihampiri bayang bahwa ada yang lebih berkuasa pada dirinya, terbukti oleh dirinya sendiri bahwa ada kejadian diluar kehendaknya, beberapa kali rencananya gagal atas rencana yang lebih kuasa (takdir), ada mega peristiwa diluar hitung perkiraannya. Bayangan tersebut ialah rasa yang telah terpatri dalam ruang terdalam manusia yang Allah ajarkan sejak masih lemahnya manusia  di dalam rahim ibunya, rasa itu disebut nurani. Di dalam tiap-tiap hati mereka nurani terus menuntun kepada fitrahnya untuk menghamba namun jiwa yang culas terus meredam dengan berbagai kenikmatan semu.

Siapa yang hatinya tidak lemah melihat gagah kokohnya gunung yang menancap ke perut bumi, melihat birunya langit lazuardi yang menenangkan, mendengar nyanyian burung memanjakan telinga, merasakan sempurnanya dan paling unggul wujud dirinya diantara semua makhluk, beradu dengan terpaan udara segar menghelai wajah yang juga menggugurkan daun dari rantingnya, yah… hingga daun yang jatuh tertahan oleh tanah,  tentu membuat jiwa yang angkuh terus mengira-ngira ada kuasa yang mengaturnya di luar kehendak manusia sepertinya. Melihat dan memerhatikan kuasa alam tersebut akan mengantarkan manusia angkuh  pada kelemahan hati, akal dan pikirannya mencari sebab semua itu.

Jikalah benar manusia menelusuri dengan hati dan pikiran pada aktivitas di kelilingnya pasti ia akan bertemu keyakinan bahwa Ia adalah hamba dengan kewajiban kepada Allah yang menjadi sebab atas apa yang dialaminya pada tiap-tiap siang dan malamnya. Bukankah  Allah ta’ala telah berfirman : “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul untuk memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman” (Q.S. Yunus: 101).

Ringkasnya, pada lingkup hubungan manusia dengan manusia yang berurusan dengan beberapa sisi kehidupan kita perlu untuk dipenuhi kewajiban atas suatu yang kita sepakati. Lalu, bagaimana lagi dengan Allah yang menjadi pangkal pokok segala kejadian yang kita alami, atas semua anugerah yang diberikan secara gratis tanpa berbayar,  maka patutlah kita menggunakan seluruh ruang kehidupan kita dalam menunaikan kewajiban kepada Allah ta’ala dahulu, di setiap 24 jam sehari semalam yang manusia miliki sebagaimana Allah mengatur tiap detik pada 24 jam kehidupan seluruh manusia. Setiap harinya.

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (Q.S. Adz Dzariyat: 56).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here