Sobat sekalian, pada bab sebelumnya kita sudah membahas tentang defenisi tharahah, keterangan tentang urgensinya dan macam macam air yang layak untuk digunakan. Pada bab selanjutnya ,insya Allah kita akan membahas beberapa diantara air yang tidak layak untuk digunakan thaharah (Bersuci).

Berikut beberapa air yang tidak layak digunakan untuk thaharah (bersuci) :

  1. Air yang tercampur dengan najis

Air yang tercampur dengan najis, lalu najis tersebut mengubah salah satu dari tiga sifatnya : baunya, rasanya atau warnanya maka air tersebut najis berdasarkan ijma’ (Kesepakatan Ulama), tidak boleh menggunakanya, ia tidak dapat menghilangkan hadast dan tidak pula membersihkan najis, sama saja air itu sedikit ataupun banyak.

Adapun bila airnya tercampur najis dan salah satu sifatnya tidak berubah, maka bila airnya banyak, ia tetap suci dan bias digunakan untuk bersuci, tetapi bila airnya sedikit, maka ia najis dan tidak bisa digunakan untuk bersuci. Batasan air yang banyak adalah 2 qullah (Bermakna gentong,ukurannya sama dengan 160,5 liter air.Dua qullah sama dengan kurang lebih lima qirab (wadah kulit untuk perbekalan musafir)penj).

Dalilnya adalah hadist Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahuanhu’ dia  berkata Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ اَلْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ 

Sesungguhnya air itu suci dan manyucikan, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya”

(H.R Abu Dawud , ahmad dan at Tirmidzi ‘Hadist hasan dishahihkan oleh al-albani dalam Irwa al-Ghalil’)

Dan hadits Ibnu Umar Radhiallahuanhu’ bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَث
“BIla air mencapai dua qullah, maka ia tidak mengandung najis”

(H.R Ahmad, Abu Dawud,at-Tarmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah)

  1. Air yang tercampur dengan (benda) yang suci

Air yang tercampur dengan benda yang suci seperti daun-daun pohon, atau sabun, atau al-usynān (Tumbuhan Hysoop yang biasanya digunakan untuk mencuci tangan) atau bidara, atau benda-benda suci lainnya, dan air tersebut tidak didominasi oleh benda-benda yang mencampurinya, maka pendapat yang shahih adalah bahwa ia suci dan mensucikan, bias digunakan untuk menghilangkan hadast dan melenyapkan najis.

Karena Allah  berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡرَبُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمۡ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعۡلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغۡتَسِلُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَٱمۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا ٤٣

Dan kemudian kalian sakit atau sedang dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau kalian telah menyentuh perempuan, kemudian kalian tidak mendapat air,maka bertayammumlah kalian dengan debu yang baik (suci), sapulah muka dan tangan kalian”

Kata  مَآءٗ dalam ayat tersebut adalah nakirah (Non definitif) dalam konteks kalimat negatif, maka ia mencakup semua air, tidak ada beda antara air yang murni dengan tercampur.

  1. Hukum Air Must’mal (yang telah digunakan) dalam Thaharah

Air yang sudah digunakan dalam thaharah seperti air yang terjatuh dari anggota badan orang yang berwudhu atau mandi adalah air suci dan  menyucikan menurut pendapat yang shahih. ia dapat menghilangkan hadast dan melenyapkan najis selama salah satu sifat dari tiga sifatnya tidak berubah ; bau, rasa, dan warnanya.

Dalil kesuciannya adalah,

وَإِذَا تَوَضَّأَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِه

Bahwa Nabi    apabila berwudhu, maka para sahabat hampir bertikai untukC(memperebutkan bekas) air wudhu beliau” (H.R Al- Bukhari no.189)

Juga karena Nabi ﷺ menunagkan air wudhunya kepada Jabir saat dia sakit, seandaninya air musta’mal tersebut najis, niscaya beliau tidak memperbolehkan untuk melakukannya, serta berdasarkan tindakan Nabi, para sahabat beliau, dan para istri beliau yang biasa berwudhu dari bejana kayu dan bejana minum,dan mereka mandi di dalam ember besar. Tindakan seperti itu tidak selamat dari kemungkinan jatuhnya sebagian percikan air kedalam bejana dari orang yang menggunakannya. Juga berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada Abu Hurairah Radhiallahuanhu.

  1. Air sisa (as-Su’ru) manusia dan hewan ternak

As-Su’ru adalah air tersisa dari sebuah bejana setelah ada yang meminumnya.Manusia itu suci, maka sisa minumannya suci, sama saja, baik dia muslim atau kafir. Demikian orang junub dan wanita haid .

Para Ulama telah berijma’atas sucinya air sisa minuman hewan yang dagingnya halal dimakan, baik hewan ternak atau lainnya. Adapun hewan yang dagingnya tidak halal dimakan, seperti binatang buas,keledai dan yang sepertinya maka pendapat yang shahih adalah bahwa sisanya juga suci. Khususnya bila airnya banyak. Namun bila airnya sedikit dan ia berubah karena diminum oleh hewan tersebut maka ia najis.

Adapaun air sisa minuman khususnya hewan seperti anjing dan babi maka ia najis,berkaitan dengan anjing, maka diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahuanhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Sucinya bejana salah seorang dari kalian bila ia dijilat anjing adalah dengan membasuhnya tujuh kali, yang pertama darinya adalah dengan tanah” (Muttafaq Alihi). Adapun babi, maka karena ia najis, buruk, dan kotor. Allah ﷻ berfirman,

فَإِنَّهُۥ رِجۡسٌ

Karena sesungguhnya ia kotor”  (Al-An’am : 145)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here