Dua tahun terakhir, penggunaan jaringan 4G meningkat pesat. Pasalnya, jaringan 4G yang juga disebut LTE secara teori memiliki kecepatan akses data lebih tinggi dibandingkan pendahulunya, yaitu 3,75G atau populer dengan istilah HSPA+ (biasa ditampilkan dengan simbol H+). Seluruh operator seluler di Indonesia juga sedang fokus untuk memperluas dan meningkatkan kualitas layanan pada jaringan 4G. Sedangkan para vendor smartphone juga berlomba-lomba untuk memproduksi shartphone 4G dengan harga murah dan berkualitas.

Namun bagi para pengguna smartphone, terkadang kecepatan akses (terutama download) di jaringan 4G justru terasa lebih lambat dibandingkan 3G, atau 3,75G. Apakah benar 4G lebih cepat dari teknologi sebelumnya, atau tidak ada pengaruh antara jenis jaringan dan kecepatan akses data? Mari kita ulas dan temukan jawabannya!

Secara umum, pada teknologi seluler generasi ketiga (3G) ada tiga tahapan sebelum berevolusi ke teknologi seluler generasi keempat (4G). yaitu 3G, 3,5G, dan 3,75G. Ketiga teknologi tersebut memiliki kecepatan yang berbeda-beda. Sebagai perbandingan, kecepatan download maksimal 3G sebesar 2 Mbps (Mega bit per second), pada 3,5G sebesar 14 Mbps, dan 3,75G sebesar 42 Mbps. Sedangkan 4G dapat mencapai kecepatan download sebesar 100 Mbps. Sehingga secara teori memang jaringan 4G memiliki kecepatan download tertinggi dibandingkan pendahulunya. Namun ada beberapa faktor yang juga sangat berpengaruh terhadap kecepatan akses pada jaringan 4G atau yang lainnya, sehingga terkadang justru jaringan 4G menjadi melambat dibandingkan jaringan lainnya.

Pada pembahasan kali ini, kita cukupkan tiga hal yang terpenting saja.

  1. Bandwidth

Bandwidth merupakan lebar pita frekuensi yang dialokasikan operator seluler untuk para pelanggannya. Sebagai contoh, jika frekuensi jaringan 4G suatu operator mulai dari 1800 – 1840 MHz, maka bandwidth jaringan 4G operator tersebut sebesar 40 MHz. Agar mudah dimengerti, dapat diibaratkan sebagai lebar jalan raya yang dilintasi kendaraan. Makin lebar jalan, maka kendaraan bisa melintasinya dengan kecepatan tinggi. Coba bandingkan di mana kendaraan sering melaju kencang, di lorong sempit atau jalan tol?

  1. Kuat sinyal

Hal ini merupakan hal yang paling sering diperhatikan oleh pengguna ponsel untuk menentukan kualitas layanan seluler. Kuat sinyal ditampilkan dalam bentuk bar / balok pada sudut layar ponsel. Jika ingin mengetahui lebih rinci, nilai kuat sinyal dapat dilihat di pengaturan –> tentang ponsel (untuk smartphone android). Kuat sinyal dinyatakan dalam satuan -dBm ([minus] desibel milliwatt). Karena bernilai minus, maka semakin kecil angkanya berarti kekuatan sinyal makin tinggi.

  1. Kepadatan jaringan

Sebuah jaringan dengan bandwidth tertentu pastinya memiliki kapasitas pengguna yang terbatas. Kita kembali ke perumpamaan jalan tol tadi. Selebar apapun jalan tol, jika musim mudik pasti akan macet juga karena banyaknya kendaraan yang melintas. Sebaliknya, kendaraan yang melintas di jalan kecil yang sepi justru bisa lebih cepat dibanding kendaraan yang melintas di jalan tol saat arus mudik. Dalam istilah telekomunikasi, hal ini disebut kongesti / congestion.

KESIMPULAN

Sekarang kita ambil contoh kasus. Jika Anda menggunakan smartphone 4G untuk mengakses layanan video, dan kuat sinyal terlihat “fullbar”. Namun hampir seluruh pengguna smartphone di sekitar Anda menggunakan jaringan 4G dengan operator yang sama dan juga mengakses layanan video. Setelah Anda berpindah jaringan ke H+, kuat sinyal hanya 4 dari 5 bar / balok. Namun, hanya Anda dan segelintir orang yang menggunakan jaringan tersebut. Meskipun bandwidth 4G lebih lebar dari H+, sangat mungkin jika kecepatan akses pada jaringan H+ lebih cepat dibandingkan pada jaringan 4G. (FIM)

Referensi:

Usman, Uke Kurniawan, “Fundamental Teknologi Seluler LTE”, Penerbit Rekayasa Sains, Bandung, 2012.

telecommunicationforall.blogspot.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here