Sebagian dari kita mungkin masih asing ketika mendengar nama sahabat Anas bin Nadhar, karena memang beliau adalah salah seorang sahabat yang ditakdirkan oleh Allah  Azza Wa Jalla untuk segera menemukan syahidnya pada perang Uhud di tahun ke-3 Hijriyah. Akan tetapi kisah beliau yang hanya ‘sebentar’ itu memberikan banyak pelajaran bagi kita semua. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini kita akan mengambil beberapa pelajaran dari kisah beliau.

Anas bin Nadhar adalah seorang sahabat Anshar yang juga merupakan paman dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu. Beliau termasuk di antara sahabat yang tidak sempat membersamai Rasulullah pada Perang Badar di tahun ke-2 Hijriyah. Setelah mendengar peristiwa Perang Badar, para sahabat yang tidak sempat mengikuti perang tersebut merasa sangat sedih dan kecewa karena melewatkan suatu momen penting yang tentunya memiliki kemuliaan, dan satu di antara mereka adalah Anas bin Nadhar Radhiyallahu ‘Anhu. Setelah itu, Anas bin Nadhar pun bertekad untuk ikut berkontribusi pada perang berikutnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Anas bin Malik bahwa pamannya itu berkata:

“Aku luput dari perang pertama yang dilakoni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekiranya Allah mengizinkanku nanti untuk turut berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah akan melihat apa yang akan kulakukan”.

Perkataan ini menunjukkan sebuah tekad besar yang dimiliki oleh Anas bin Nadhar Radhiyallahu ‘Anhu.

Setahun berikutnya meletuslah Perang Uhud, Anas bin Nadhar pun bersiap-siap untuk membuktikan tekadnya itu. Dalam sebuah riwayat, pada saat Perang Uhud berlangsung Sa’ad bin Muadz Radhiallahu ‘Anhu datang menemuinya dan berkata, “Wahai Abu Amr hendak kemana?” tanya Sa’ad. Anas menjawab,

“Ini dia kurasakan harum angin surga di balik Uhud”.

Setelah mengatakan hal tersebut, Anas bin Nadhar menerjang musuh tanpa rasa takut dan ia pun menemukan syahidnya di medan Uhud.

Setelah Perang Uhud usai maka ditemukanlah jasad Anas bin Nadhar Radhiyallahu ‘Anhu dalam kondisi sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka, sampai-sampai beliau sulit dikenali oleh para sahabat kecuali oleh saudarinya yang bernama ar-Rubai’ binti an-Nadhar melalui ruas jarinya.

Pelajaran penting dari kisah Anas bin Nadhar Radhiyallahu ‘Anhu

Setelah membaca kisah Anas bin Nadhar Radhiyallahu ‘Anhu di atas, setidaknya ada dua pelajaran penting yang bisa kita petik, yaitu:

  1. Seorang muslim sejati akan merasa sedih ketika melewatkan sebuah amalan kebaikan yang seharusnya mampu ia tunaikan sebagaimana sedihnya para sahabat yang tidak menyertai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di Perang Badar.
  2. Seorang muslim sejati ketika menemukan paluang untuk beramal shalih, maka ia akan menjalankannya dengan maksimal dan ini bisa kita lihat dari totalitas seorang Anas bin Nadhar Radhiyallahu ‘Anhu dalam perang Uhud yang menyebabkan luka disekujur tubuh beliau hingga menemukan syahidnya.

Para Ulama tafsir kita mengatakan bahwa QS. Al Ahzab: 23 yang berbunyi:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلاً

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” [QS Al-Ahzab: 23]

Merupakan ayat yang turun terkait kisah kepahlawanan Anas bin Nadhar Radhiyallahu ‘Anhu dan ini menunjukkan keutamaan beliau di sisi Allah Azza Wa Jalla. 

Oleh karena ituSemoga kita bisa mengambil setiap pelajaran dari kisah para orang shalih dan mengamalkannya dalam kehidupan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here