Ujian dan cobaan dalam hidup di dunia terkadang berupa kelapangan dan kenikmatan, namun terkadang juga berupa kesempitan dan musibah. Bisa berupa sehat maupuan kondisi sakit, bisa berupa kekayaan maupun kemiskinan. Bisa berupa ujian harta maupun wanita. Seorang mukmin akan menghadapi ujian dalam dua keadaan : kondisi susah dan kondisi senang.

Maka sesungguhnya kehidupan dunia adalah negeri ujian dan penuh dengan cobaan. Tidaklah seorang hamba hidup di dunia kecuali dia akan diuji dan nantinya akan kembali kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman ;

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik“ (An-Najm : 31).

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan“ (Al-Anbiya’ :35).

Seluruh manusia yang hidup di muka bumi ini pasti Allah akan uji, tanpa terkecuali. Bahkan sekaliber nabi. Maka coba perhatikan setiap ujian yang Allah berikan kepada seorang mukmin akan ada pelajaran dibalik setiap musibah yang menimpanya.

Kisah singkat berikut ini, memberikan satu pelajaran kehidupan akan ujian yang Allah timpakan kepada seorang hamba yang beriman kepada-Nya.

Kisahnya dimulai dari hidupnya yang berliku; masa kecilnya ia habiskan di tempat pembuangan, terasingkan dari orangtua yang ia sayang. Dikucilkan saudaranya, mengalami human trafficking, di uji dengan berbagai gejolak nafsu masa muda, di fitnah berzina oleh sang istri raja, jelas tak bersalah namun ia lebih memilih untuk di penjara. Begitu berat ujian yang ia rasakan pada dirinya; padahal usianya tergolong masih muda. Namun hingga pada akhirnya Allah memberikan kemenangan yang tak pernah ia duga-duga sebelumnya, kemenangan yang begitu sempurna. Menjadi seorang perdana Mentri sekaligus nabi dalam negeri kinanah. 

Siapa yang menyangka bahwa kisah hidup yang harus dilaluinya amat menyulitkan kehidupannya. Namun bukankah Allah memberikan hadiah kisah hidupnya menjadi kisah terbaik dalam Al-Qur’an.

Ialah Nabi Yusuf ‘alaihissalam, pemuda yang dianugrahi keindahan separuh ketampanan, diliputi kemuliaan, sifat santunnya, penyabar dan pemaaf yang tak akan pernah terlupakan oleh zaman. Meski berbagai macam cara yang dikerahkan oleh saudara-saudaranya untuk melenyapkan nabi Yusuf ‘alaihissalam dalam kehidupan, namun justru nabi Yusuf ‘alaihissalam membalas dengan berbagai macam bantuan.

Dialah sosok pemuda terbaik pada masanya, yang tak pernah menangisi keadaan meski tak berpihak kepadanya. Tersimpan begitu banyak hikmah dalam perjalanan hidup nabi Yusuf ‘alaihissalam untuk para kaum muslimin hari ini. Tak terkecuali untuk kawula muda, bahwa hidup di dunia ini diatas keimanan resikonya adalah ujian. Terlebih lagi jika Allah menganugrahi ketampanan yang berlebih, jika tidak dapat menjaga diri, telah dipastikan ia akan terjatuh pada lembah kemaksiatan.

Dan menjadi pemuda adalah belajar menjadi sosok yang bersabar sebagaimana nabi Yusuf ‘alaihissalam, sebab pada masa inilah semua hal dapat dilakukan, maka jadilah pribadi yang penuh pemaaf agar keberkahan menyertai dalam setiap kehidupan.

Dalam setiap ujian yang menimpa manusia akan selalu ada kebaikan. Oleh karena itu dalam sebuah hadits dari sahabat Anas radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;

عَجَبًا لِلْمُؤْمِنِ !! لَا يَقْضِي اللَّهُ لَهُ شَيْئًا إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan seorang mukmin. Tidaklah Allah menetapkan kepadanya sesuatu kecuali itu merupakan kebaikan baginya“ (H.R Ahmad).

 

Dan kita amat ingin belajar menjadi si ganteng (baca; nabi yusuf-pent) yang amat sangat gagah menghadapi segala ketentuan dari Allah pada dirinya. Maka gagah justru karena bersandar kepada Allah. Sebab kuat lemahnya seseorang tergantung siapa sandarannya.

Maka sepahit apapun hidup kita, segetir apapun pengalaman diri, separah apapun lika-liku yang kita lalui; Yusuf adalah hujjah Allah agar kita tetap gagah menghadapi ujian hidup ini.
Semua manusia hidup dalam berbagai bentuk ujian. Barangkali bentuknya tak serupa, begitupun pula kadarnya berbeda tapi hakikatnya tetap sama dan  masing-masing kita akan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam ayat-Nya ;

وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan“ (Al-Anbiya’ :35)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik kepada kita dan senantiasa berusaha agar kita menjadi orang yang beruntung dan mendapat kemenangan dalam menghadapi ujian dan cobaan, baik berupa nikmat maupun musibah. Hanya Allah satu-satunya Zat yang Maha memberi petunjuk dan tiada sekutu bagi-Nya

                                                                        ***

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here