Setelah sekian lama terpisah jarak, hati ayah yang telah renta itu membendung rindu. Memaksanya untuk berjalan menembus batas-batas usia hanya untuk bertemu anak tercinta yang telah lama ditinggalnya. Ibrahim alaihis salam­, akhirnya menempuh perjalanan menuju kediaman buah hati penyejuk matanya, Ismail yang mulai tumbuh remaja.

Ibrahim datang saat Ismail tengah membetulkan anak panah miliknya di bawah pohon besar di dekat mata air zamzam. Saat menoleh, Ismail langsung menghampirinya, keduanya melakukan apa yang dilakukan seorang anak kepada ayahnya, dan seorang ayah kepada anaknya. Meluapkan semua rindu dalam sua yang dinanti-nanti.

Tidak ingin melewatkan setiap inci kebersamaan, Ibrahim memilih tidur di dekat anaknya di dalam rumah. Hanya saja, tanpa diduga ia bermimpi. Mimpi yang mengusik hatinya. Mimpi yang membuatnya tak mampu lagi untuk tidur setelahnya. Mimpi kali ini adalah yang paling aneh dari semua peristiwa yang telah terjadi dalam kehidupan al-khalil Ibrahim alaihis salam sebelumnya. Sebab belum juga ia menikmati kebersamaan dengan anaknya yang sudah mencapai usia bisa diajak bekerja itu, Allah memerintahkan si ayah untuk menyembelihnya. Yah, Allah azza wa jalla memerintahkan Ibrahim menyembelih anaknya; Ismail. Ya Allah!

Sebelumnya, Ibrahim telah meninggalkan si anak dan ibunya di lembah tandus tak berpenghuni, ia terpisah cukup jauh dan lama. Namun, mimpi para nabi adalah wahyu dan hari itu Ismail harus disembelih. Lebih pahitnya lagi, bahwa Allah tidak menyerahkan eksekusi penyembelihan tersebut pada orang lain, tapi pada si ayah sendiri. Sungguh betapa dirinya berada pada kondisi yang teramat sulit. Akan tetapi, iman bangkit di dalam hatinya. Kecintaannya kepada Allah menampakkan dengan jelas kebenaran, nubuwah telah mengalahkan naluri seorang ayah. Bergegas sang ­al-khalil Ibrahim menemui ash-shiddiq Ismail.

“Anakku tercinta…” katanya penuh kasih, “Sungguh aku bermimpi bahwa diriku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Aduhai betapa beratnya kalimat-kalimat itu harus tertutur.

Menghadapi kondisi seperti ini, anak biasanya akan berkeluh kesah, tapi Ismail berbeda. Ia memahami betul bahwa hal ini adalah perintah untuk ayahnya dari pemilik alam sejagat. “Wahai ayahku…” jawabnya penuh yakin, “Tunaikanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Betapa kata-kata itu begitu membekas. Dia baru saja menulis teks kesabaran dan iman di dalam relung hati dengan goresan ketaatan, menghapus segala sikap menyalahkan takdir, dan menetapkan dirinya pada kepasrahan penuh tunduk dan berserah diri di bawah kerajaan Allah yang Maha Luas.

Sungguh betapa kokoh iman yang terpatri di dalam dadanya. Betapa beruntungnya bagi setiap ayah yang memiliki anak seperti dirinya. Hanya saja, tentu semua itu tidak didapatkan Ismail begitu saja melainkan melalui tempahan tarbiyah dari Ibunya yang shalehah. Yah, Hajar adalah madrasah terbaik yang telah melahirkan dan mendidiknya menjadi sekesatria seperti itu. Tidak diragukan lagi, bahwa Hajar adalah salah satu qudwah terindah bagi para ibu dalam kesabaran dan keimanan.

Dahulu, ketika Ibrahim suaminya tertitah Rabb untuk membawa dirinya bersama Ismail menuju negeri-negeri Hijaz di dekat Baitullah al-Haram. Saat itu, tak seorangpun berada di sana, sehingga tiada yang menghuni padang pasir nan luas terbentang itu selain fatamorgana, teriknya matahari, dan beberapa pohon kecil yang biasa tumbuh di tanah tandus tanpa air, kecuali air hujan yang turun dengan malu-malu dari waktu ke waktu.

Adapun Hajar al-Mishriyyah, adalah wanita yang sejak kecil telah meminum air tanah dan air hujan Mesir yang menyegarkan, bagaimana mungkin ia ditempatkan di tengah-tengah hamparan pasir hanya berdua bersama anaknya? Namun, inilah ujian dari Allah. Meski Ibrahim sang penyayang dan tidak mungkin mampu melihat istri dan anaknya menderita dalam sunyi sepi, lagi-lagi ketaatan mengalahkan segala iba.

Ibrahim benar-benar meninggalkan Hajar bersama anaknya di sisi Baitullah. Segera ia berpaling dan pergi, menyembunyikan kesedihan, menahan gejolak rasa yang tumpah lewat derasnya air mata. Saat itu, ibu Ismail berlari dan membuntutinya seraya bersorak, “Hai Ibrahim! Hendak ke mana kau pergi dan meninggalkan kami di lembah tanpa teman atau apapun di sini?” Sayang, Ibrahim tidak menoleh sedikitpun.

Hajar terus mengulang pertanyaan itu beberapa kali, dan Ibrahim masih saja melanjutkan tapak-tapak kakinya tanpa menjawab sepatah katapun. Akhirnya ia sadar dan memahami bahwa ada sesuatu di balik semua ini. “Allah-kah yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini?” tanyanya lagi.

“Ya…” jawab Ibrahim singkat. Hajar akhirnya mengatakan, “Kalau begitu, pergilah. Dia pasti tidak akan menelantarkan kami.”

Pada kalimat itu, tidakkah hati kita bergetar? Seorang Muslimah yang taat, ditinggal di lembah tak berpenduduk, berdua dengan anak yang masih dalam gendongan, dengan bekal roti secukupnya dan air segeriba, dalam waktu yang belum jelas sampai kapan. Lalu dengan mantapnya ia berkeyakinan, “Kalau begitu, pergilah. Dia pasti tidak akan menelantarkan kami.” Hajar memang qudwah yang indah untuk para mukminah.

Subhanallah… maka jangan heran bila Ismail memiliki iman sekuat baja. Sebab ibunya pun tak kalah berimannya. Benarlah banyak orang yang menghikmahkan bahwa di balik lelaki hebat, selalu ada wanita yang taat. Dan dari keluarga sederhana ini, banyak pelajaran yang dapat kita petik, dari perjalanan cinta keluarga Ibrahim. Akan tetap terjaga “hikmah”nya sebagaimana terpeliharanya Al-Quran. Sungguh, pengorbanan tak tertandingi bisa diteladani oleh seluruh umat Islam sepanjang masa. Belajar dari pengorbanan, keimanan, ketundukan, dan cinta yang luar biasa. Yah, cinta Ibrahim, Ismail, dan Ibunda Hajar yang tanpa syarat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here