Beberapa jam seusai sholat Jum’at, HP kami berbunyi berkali-kali. Ada banyak status di media sosial memberitakan kejadian memilukan di selandia baru. Aku membuka video yang beredar di grup WA. Nampak aksi penembakan brutal dan Terdengar suara tembakan beruntun dari layar HP. Melihatnya, serasa ada rasa ‘sakit’ amat perih. Apalagi mengetahui bahwa kejadiaan tersebut yang menjadi korban adalah para jamaah masjid yang hendak sholat jumat. Astagfirullah…

Melihat videonya para anak muda mengatakan seperti terlihat rekaman gim perang, yang sekarang lagi banyak anak muda mainkan di komputer dan HP. Namun harusnya para pemuda melihat ini sebagai bentuk kesedihan minimal doa dipanjatkan. Jangan sampai pemuda hari ini terbuai dengan kelalaian main game dan segala macamnya. Karena sesungguhnya telah banyak kejadian yang memilukan seperti telah terjadi dan yang lebih parah lagi. Minoritas Muslim di sepanjang zaman dan tempat telah cukup menjadi objek paling nyata dari segala bentuk diskriminasi dan intimidasi. Memasuki era millenium, tentu tak lekang dari ingatan bagaimana media menyiarkan kejadian 9/11, 18 tahun yang lalu.

Isu Islamophobia seketika melanda daratan Eropa dan Amerika dengan sangat ekstrem. Meski bertahun setelah peristiwa tersebut, populasi Muslim justru mengalami pertumbuhan tak teduga. Kondisi malah berbalik arah. Berbondong-bondong orang memeluk Islam. Menjadikan jumlah muslim pelan-pelan mulai layak diperhitungkan.

Insiden pembantaian di dua masjid Christchurch, Selandla Baru pada hari Jum’at, 15 Maret 2019 yang merenggut korban meninggal dunia dan luka-Iuka ini harusnya mengambil banyak hikmah di dalamnya. Oleh karenanya dalam tulisan ini penulis ingin menasehati para pemuda untuk mengambil banyak hikmah atas peristiwa ini.

Pertama pemuda haruslah peka akan kondisi global khususnya kaum muslimin. Tidak boleh berfikir egois, ingin menentukan diri sendiri.

Kedua Setiap generasi muda kaum muslimin sudah saatnya belajar Islam dengan benar. pendidikan dan tarbiyah yang komprehensif dan menyeluruh baik intelektual , ruhiyah serta  fisik , skill dan kemampuan survivenya harus terus d galakkan di kalangan pemuda..

Ketiga peristiwa ini tidaklah boleh membuat kita bermata gelap dan kehilangan akal sehat hingga masuk dalam irama genderang yang ditabuh lawan dan memberikan aksi reaktif yang tidak terkontrol.

Keempat saatnya para pemuda bersatu untuk menolong sesama. Mari kita bergabung kelembaga, bermusyawarah, memantapkan konsolidasi , dan sebagainya

Tunjukkan pada dunia, bahwa kaum muslimin adalah sebuah kesatuan yang kokoh dan tak begitu saja mampu ditumbangkan. Umat ini sudah terlalu banyak mengalami peristiwa berdarah. Barakallahufikum semoga Allah menguatkan kita di jalan Nya .. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here