Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang membutuhkan manfaat dari suatu benda sedang ini tidak mampu membelinya atau membayar uang sewanya. Di sisi lain, tidak semua orang siap menghadiahkan atau menyedekahkan barang miliknya begitu saja. Sebagai solusi Islam menawarkan system ariyah (pinjam meminjam). Di mana orang yang membutuhkan dapat memperoleh manfaat dari benda tertentu dengan mudah, sedangkan pemilik benda tersebut mendapat pahala karena telah menolong saudaranya, dan benda yang dipinjamkan tetap menjadi miliknya.

DEFINISI

Secara etimologi, Ariyah berarti saling menukar dan berganti yang diakhiri dengan pengembalian.

Menurut terminologi Syariah ariyah berarti memberikan mengizinkan Manfaat suatu benda untuk orang lain tanpa imbalan.

HUKUM ARIYAH

Ariyah (Pinjam-Meminjam) adalah akad yang tidak terikat,yakni kedua belah pihak boleh membatalkannya. Ariyah termasuk Ibadah sunnah yang dianjurkan sebagai bentuk kebajikan dengan memenuhi hajat orang lain rasa cinta serta kasih sayang sesama muslim pun senantiasa terjalin.

Ariyah bisa berubah menjadi wajib bila orang yang membutuhkan dalam keadaan darurat sedangkan si pemilik barang tidak membutuhkannya. Seperti ketika ada orang yang tidak memiliki pakaian di musim dingin, maka wajib bagi orang yang di minta tolong dan mempunyai pakaian lebih untuk meminjamkannya.

Anjuran dalil-dalil Al-Qur’an dan hadist diantaranya :

1.Firman Allah Ta’ala:
” dan Tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran bertakwalah kamu kepada Allah Sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (QS.Al-Maidah : 2).

2.Hadist Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam:

Shafwan bin Umayyah bercerita bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pada perang Hunain pernah meminjam baju besi dari nya, saat itu ia belum masuk Islam lalu ia berkata kepada Rasulullah Apakah perisai ini diambil begitu saja dariku Muhammad?” beliau menjawab tidak, tetapi pinjaman yang dijamin akan dikembalikan.” (HR.Ahmad Hasan).

RUKUN ARIYAH

Mayoritas ulama menyatakan bahwa rukun Ariyah ada empat yaitu;

1.Mu’ir (Pemberi pinjaman)
2.Musta’ir (Orang yg meminjam)
3.Mu’ar (Barang yang dipinjam)
4.Shighah (serah terima, baik dengan ucapan maupun perbuatan).

SYARAT-SYARAT ARIYAH

1. Pemberi pinjaman harus baligh berakal sehat dan melakukannya dengan sukarela.
2. Peminjam harus baligh berakal sehat dan jelas orangnya.
3. Peminjam harus menerima barang pinjaman.
4. Benda yang dipinjamkan adalah hak milik pemberi pinjaman atau Ia memiliki izin untuk meminjamkannya.
5. Benda yang dipinjamkan dapat diambil manfaatnya tanpa mengurangi atau merusaknya.
6. Fungsi atau manfaat benda tersebut Mubah/boleh karenanya tidak boleh meminjamkan benda yang akan digunakan untuk perbuatan yang diharamkan seperti,meminjamkan alat elektronik untuk mendengarkan musik, meminjamkan apartemen, untuk prostitusi, toko untuk penjualan barang haram,benda tajam untuk membunuh ,meminjamkan mushaf kepada orang kafir dan lain-lain.

HAK PENGGUNAAN BARANG PINJAMAN

Jumhur ulama menyatakan bahwa barang pinjaman hanya dapat digunakan sesuai kriteria yang diizinkan oleh pemilik sedangkan ulama mazhab Hanafi membagi Ariyah menjadi dua jenis;

1.Pinjaman mutlak

Maksudnya adalah saat akad berlangsung tidak disebutkan Apakah barang pinjaman itu hanya akan digunakan oleh peminjam atau oleh orang lain juga tidak disebutkan batasan waktu, tempat serta tujuan penggunaan.

Misalnya: Seseorang meminjam kendaraan tanpa menyebutkan tempat dan batas waktu pemakaian nya tidak pula tujuan penggunaan apakah untuk mengangkut orang atau juga barang. Dalam akad jenis ini si peminjam sa ma halnya seperti pemilik ia bebas menggunakan kendaraan tersebut selama dalam koridor kewajaran dan urf/kebiasaan yang berlaku.

2.Pinjaman Terikat.

Adalah pinjaman yang batas tempat waktu dan tujuan penggunaannya telah ditentukan saat akad konsekuensinya adalah peminjam harus memperhatikan batasan itu kecuali jika membuatnya tidak bisa memanfaatkan barang pinjaman, maka syarat atau batasan tersebut boleh tidak diindahkan.Misalnya saat meminjam kendaraan ia berjanji akan menggunakannya hanya untuk pribadi dan keluarganya maka yg tidak boleh membawa orang lain bersamanya. Atau saat akad pemilik membatasi penggunaan nya hanya untuk mengangkut orang maka ia tidak boleh menggunakannya untuk mengangkut barang.

Karenanya saat akad sebaiknya kedua belah pihak menyepakati hal-hal yang berhubungan dengan syarat dan batasan peminjaman Selain itu harus sama-sama Memastikan kondisi barang pinjaman, agar nantinya tidak terjadi perselisihan yang dapat meretakkan persaudaraan apalagi sampai kepada pertikaian.

TANGGUNG JAWAB ATAS BARANG PINJAMAN

Peminjam harus menjaga serta menggunakan barang pinjaman dengan baik dan dalam batasan yang lumrah kemudian mengembalikannya seperti sedia kala saat dipinjam ia tidak dibenarkan mengingkari pinjaman saat dituntut, atau menahan barang pinjaman setelah selesai dimanfaatkan.

Allahu Subhanahu Wata’la berfirman:
” Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa:58).

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ” pinjaman wajib dikembalikan kepada pemiliknya.” (HR.Tirmidzi dan Abu Daud,shahih)

WAKTU PENGEMBALIAN BARANG PINJAMAN

Akad pinjam meminjam berakhir dengan salah satu dari hal berikut.

1. Pemilik menarik barang yang dipinjamkan dengan syarat tidak menyebabkan kerugian bagi si peminjam.
2. Peminjam mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya.
3. Salah satu pihak wafat atau gila
4. Salah satu pihak dilarang bertransaksi atau berinteraksi oleh Hakim seperti karena bangkrutnya pemberi pinjaman atau salah satunya terbukti ceroboh dan lalai dalam bermuamalah.

Pemberi pinjaman berhak meminta kembali barang yang dipinjamkan kapan saja Ia mau kecuali jika menimbulkan kerugian bagi peminjam maka pemilik barang hendaklah menundanya. Seperti tanah yang dipinjamkan untuk ditanami, jika ditarik sebelum panen, maka peminjam akan rugi, maka pemilik tanah hendaklah menunda penarikannya hingga musim panen selesai.

Serial dasar-dasar Islam
Tim Ilmiah
Indonesian Community Care Center

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here