Oleh Akh Satrio Bagus

Anak adalah hiasan hidup dalam keluarga, penyejuk mata, dan harapan bagi orang tua di masa depan. Mereka senantiasa terjaga lewat perhatian-perhatian orang tua dan pendidikan sejak dini. Semakin banyak anak, semakin bertambah pula kebahagiaan dan harapan. Namun, tidak semua keluarga memiliki banyak anak, ada yang merasa memiliki satu orang anak saja sudah cukup. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain karena kondisi sosial yang dirasa tidak memungkinkan untuk menambah tanggungan biaya atau karena istri yang tidak kunjung memberikan momongan. Anak tunggal identik dengan sifat tidak bisa mandiri dan selalu memerlukan perhatian dan kasih sayang orang di sekitarnya, cenderung menguasai atau bertengkar. Lantas, salahkah jika memiliki satu orang anak saja? Adakah di antara ulama ummat ini yang menonjol dan menginspirasi sedangkan Ia adalah anak tunggal?, lewat tulisan ini semoga kita mengerti bahwa keterbatasan sebagai anak tunggal tidak akan menghalangi dakwah untuk terus menginspirasi ummat ini.

Terlahir sebagai anak tunggal di sebuah keluarga yang terhormat dan dermawan, An-Nu’man bin Basyir bin Al-Marzuban atau lebih dikenal sebagai Imam Abu Hanifah adalah orang merdeka dari Persia, kaumnya asli dari Kabul, ibukota Afghanistan saat ini. Kakek Abu Hanifah, yakni Al-Marzuban masuk islam di masa kepemimpinan ‘Umar bin Khaththab sebagai Khalifah yang kedua saat itu. Setelah masuk islam, Al-Marzuban memutuskan untuk pindah ke Kufah dan menetap di sana. Dilahirkan di kota Kufah pada tahun 80 Hijriyah di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, Abu Hanifah tumbuh di keluarga muslim yang shalih, kaya, dan dermawan. Ayahnya adalah seorang penjual kain sutera dan pakaian di toko pribadi miliknya. Sebagai wajib baktinya kepada oarang tua, Abu Hanifah menggantikan dan meneruskan usaha Ayahnya itu.

Abu Hanifah hafal Al-Qur’an saat masih kecil, hanya saja belum memiliki keinginan untuk mendengar atau menghadiri pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh para ulama. Kesibukan Abu Hanifah sebagai penjual kain sutera menemani sang Ayah di pasar ternyata mengantarkannya pada seseorang. Abu Hanifah yang sering kali terlihat datang dan pergi di pasar, dipanggil oleh Asy-Sya’bi. Abu Hanifah menuturkan  “Suatu ketika saya melintas di hadapan Asy-Sya’bi yang sedang duduk, lantas Ia memanggilku”, Ia bertanya,” Kamu sering datang dan pergi, ke mana saja Kamu?”, “Saya sering menemui si Fulan”, sahut Abu Hanifah. “Tidak-tidak, maksud saya adalah siapa saja ulama yang Kamu temui?,”tanya Asy-Sya’bi. “Saya jarang menemui mereka,” Abu Hanifah membalas. “Jangan begitu!, Kamu harus mempelajari ilmu dan berteman dengan para ulama, karena Saya melihat adanya kecerdasan dan keaktifan di dalam dirimu,” kata Asy-Sya’bi.

Abu Hanifah melanjutkan,”Kata-kata Asy-Sya’bi saat itu sangat berkesan di hatiku. Sejak saat itu, saya mulai meninggalkan pasar dan mulai mempelajari ilmu. Allah ternyata membuat kata-kata Asy-Sya’bi itu berguna bagi Saya.”

Terlahir sebagai anak tunggal, tidak menghalangi Abu Hanifah untuk berbakti kepada kedua orang tuanya sekaligus menuntut ilmu syar’i. Hammad bin Abu Sulaiman merupakan seorang ulama yang tekenal pada masa itu. Ilmu yang diajarkan pada murid-muridnya adalah fiqih dan adab. Abu Hanifah berkesempatan untuk menjadi muridnya dan menimba banyak ilmu darinya. Abu Hanifah yang tidak mau ketinggalan, mengarahkan segenap perhatiannya kepada gurunya tersebut. “Jangan sampai ada yang duduk di depan majelis tepat sejajar dengan Saya, selain Abu Hanifah,”perintah sang guru.

Kedekatan Abu Hanifah dengan Hammad bin Abu Sulaiman bagaikan seorang ayah dan anak. Sopan santun Abu Hanifah kepada sang guru sangat menakjubkan. Abu Hanifah sering mengunjungi rumah gurunya itu dan menanti di dekat pintu hingga gurunya tersebut keluar untuk shalat atau untuk suatu keperluan. Setelah itu, Abu Hanifah mulai bertanya dan menemani sang guru, Abu Hanifah selalu melayaninya. Saat duduk di rumah, Abu Hanifah tidak pernah menjulurkan kakinya ke arah rumah Hammad bin Abu Sulaiman walaupun jarak antara rumahnya adalah terpisah tujuh jalan. Saat selesai shalat, Ia selalu mendoakan gurunya tersebut bersama dengan kedua orang tuanya. Sebagai seorang murid, kisah Abu Hanifah sangat menginspirasi.

Ilmu yang menarik perhatian Abu Hanifah adalah ushuluddin dan perdebatan melawan orang-orang atheis dan sesat. Berkunjung ke Bashrah lebih dari dua puluh tujuh kali. Di sana Abu Hanifah berdebat dan membantah berbagai macam syubhat, mendebat jahmiyah, kalangan atheis, mu’tazilah, khawarij, dan kalangan syi’ah ekstrim. Pada 127 Hijriyah, di masa kepemimpinan khalifah Marwan bin Muhammad Al-Umawi, khawarij menjajah Kufah di bawah komando Adh-Dhahhak bin Qais Asy-Syaibani. Di bawah komandonya, beberapa orang menemui Abu Hanifah dan memintanya untuk bertaubat. Sang Imam bertanya,”Taubat atas dosa apa?”. Kemudian Adh-Dhahhak bin Qais Asy-Syaibani menjawab,” Bertaubat karena Kau telah meridhoi Tahkim (kesepakatan) –antara Ali dan Muawiyah-.”.

Kemudian Abu Hanifah bertanya menimpali,”Bisakah Kau berdebat denganku?”. “Tentu saja Saya sanggup berdebat denganmu,” jawab Adh-Dhahak dengan penuh percaya diri. “Jika Kita berselisih pendapat, siapakah yang akan Kita jadikan penengah?”.tanya sang Imam. Kemudian Adh-Dhahhak terdiam sejenak dan berpikir,”SI Fulan.”. “Apakah Kau setuju si Fulan sebagai pemutus perkara di antara Kita ?” tanya sang Imam. Adh-Dhahhak menjawab,”Ya”. Kemudian Imam Abu Hanifah berkata,”Berarti Kau telah meridhoi Tahkim (kesepakatan) !”. Adh-Dhahhak kemudian diam tak berkutik

Abu Hanifah meninggal di usia 70 tahun tepatnya di tahun 150 Hijriyah. Pada saat jenazahnya diangkat, belum pernah terlihat pemandangan orang menangis sebanyak itu sebelumnya. Bahkan, orang-orang yang ingin manyalati jenazahnya berjumlah 50 ribu orang dan dishalati hingga enam kali sampai akhirnya dikuburkan.

Itulah kisah dari seorang ulama kharismatik yang terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga yang shalih. Keterbatasan sebagai satu-satunya anak dalam keluarga tidak menghalangi aktivitasnya sebagai ulama yang terus mengajarkan ilmu dan menginspirasi ummat ini. Semoga Kita semua bisa mengambil pelajaran dari kisah hidup Imam  Abu Hanifah, Barakallahu fiikum.

 

(Diringkas dari kitab ‘Ulama Raghmat Tahaddi,karangan Dr. Jasim Muhammad Badr) SBA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here