Kehidupan manusia punya banyak cerita dan peristiwa, sedikit sedih dan banyak tawa, sedikit optimis dan banyak cemas, atau sebaliknya. Tak ada yang tahu pasti kita harus berkespresi seperti apa di waktu dan tempat yang tidak ada dugaannya. Mengekspresikan apa yang kita alami adalah fitrah sebagai makhluk, tetapi bersikap untuk tetap berprasangka baik atas semua peristiwa hidup adalah pilihan seorang abduLlah, hamba Allah.

Tak selamanya sedih menyertai langkah manusia di dunia, begitu pula bahagia. Menjalani hidup dan kehidupan ini tidak ada yang โ€˜selamanya adaโ€™ bagi mereka yang imannya membuncah di dada. Tetapi untuk mereka yang nafsunya melebihi belahan benua, hasrat menikmati dan menguasai harta melebihi luasnya samudera maka dunia ini selalu ada dan terlihat bak surga mereka. Semua harta akan terlihat memukau bagi manusia, baik harta yang sudah dimiliki ataupun yang masih diangankan.

Memasuki era globalisasi, terjadi pergeseran kelompok harta premier dan sekunder, misalnya kendaraan dan telepon genggam. Menyelisik sekitar 15 tahun yang lalu di negeri nusantara ini, jumlah orang yang memiliki kendaraan motor bisa dihitung, jumlah yang memiliki telepon genggam pun hanya sebatas pimpinan korporasi atau pejabat berdasi. Dan lebih sedikit lagi yang memiliki keduanya. Semua itu telah terjadi, yang tadinya dianggap sebagai harta tersier atau mewah sekarang menjadi sekunder atau pelengkap, tadinya hanya melengkapi sekarang menjadi fardhuโ€™ain. Manusia yang menjadikan semuanya melampaui batas. Alhasil, seakan-akan kita mengucilkan diri kita jika tidak punya harta yang diinginkan padahal tidak dibutuhkan, itulah gengsi dan tabiโ€™at manusia.

Allah Azza wa Jalla juga telah menciptakan manusia dengan tabiaโ€™atnya yang sangat mencintai harta. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al-Fajr ayat 20:

ูˆูŽุชูุญูุจู‘ููˆู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ูŽ ุญูุจู‘ู‹ุง ุฌูŽู…ู‘ู‹ุง

โ€œDan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihanโ€.

Tapi sadarkah kita jika dunia tempat kita berlomba mengumpulkan pecahan rupiah akan binasa? Sadarkah atau dirimu masih tertipu, wahai tuan ?

Perlu berapa banyak meteor yang harus menghantam daratan agar matamu terbuka bahwa mineral dan batuan yang harder than your money juga binasa ?

Perlu berapa banyak musibah transportasi mewah berlapis logam mulia yang telah Allah tunjukkan padamu bahwa mereka binasa dan harta mereka binasa ?

Kita bisa memilih hidup untuk mati membawa harta, atau mati membawa sengsara. Harta yang kita miliki sekarang tidak lain hanyalah ujian. Nabi Muhammad Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda :

ุฅูู†ู‘ูŽ ู„ููƒูู„ู‘ู ุฃูู…ู‘ูŽุฉู ููุชู’ู†ูŽุฉู‹ ูˆูŽููุชู’ู†ูŽุฉู ุฃูู…ู‘ูŽุชูู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู

Sesungguhnya setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta (HR.Tirmidzi no. 2336)

Layaknya madrasah, dunia juga punya faktor kelulusan atas ujian-ujian tersebut. Sekian lama kita hidup dan mencari rezeki, adakah kita hidup selamanya ? tentu tidak. Mempersiapkan tempat setelah kematian itulah yang harus dipikirkan, surga atau neraka. Jika di dunia kita dapat senang karena memiliki kecukupan harta, maka setelah matipun kita juga harus punya harta agar bisa beruntung. Ramai kita lihat orang-orang yang beretnis tionghoa ketika mereka meninggal mereka dikuburkan bersama dengan harta yang dicintainya. Apakah itu yang dimaksud dengan harta yang dibawa mati ? tentu tidak.

Sebagai muslim yang peduli agamanya, kita memandang harta sebagai sesuatu yang tidak selalu bernilai materi. Amalan yang kita lakukan sehari-hari juga bisa disebut harta. Ada amalan yang dilakukan sekali mendapatkan balasan pahala sekali. Juga ada amalan yang dilakukan sekali, tapi balasan pahalanya tidak terputus walau kita mati.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu โ€˜anhu, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฅูู†ู‘ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูŽู„ู’ุญูŽู‚ู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ูˆูŽุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชูู‡ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู…ูŽูˆู’ุชูู‡ู ุนูู„ู’ู…ู‹ุง ุนูŽู„ู‘ูŽู…ูŽู‡ู ูˆูŽู†ูŽุดูŽุฑูŽู‡ู ูˆูŽูˆูŽู„ูŽุฏู‹ุง ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ุชูŽุฑูŽูƒูŽู‡ู ูˆูŽู…ูุตู’ุญูŽูู‹ุง ูˆูŽุฑู‘ูŽุซูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู‹ุง ุจูŽู†ูŽุงู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุจูŽูŠู’ุชู‹ุง ู„ูุงุจู’ู†ู ุงู„ุณู‘ูŽุจููŠู„ู ุจูŽู†ูŽุงู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู†ูŽู‡ู’ุฑู‹ุง ุฃูŽุฌู’ุฑูŽุงู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู‹ ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูŽุงู„ูู‡ู ูููŠ ุตูุญู‘ูŽุชูู‡ู ูˆูŽุญูŽูŠูŽุงุชูู‡ู ูŠูŽู„ู’ุญูŽู‚ูู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ู…ูŽูˆู’ุชูู‡ู

โ€œSesungguhnya yang didapati oleh orang yang beriman dari amalan dan kebaikan yang ia lakukan setelah ia mati adalah:

  1. Ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan.
  2. Anak shalih yang ia tinggalkan.
  3. Mushaf Al-Qurโ€™an yang ia wariskan.
  4. Masjid yang ia bangun.
  5. Rumah bagi ibnu sabil (musafir yang terputus perjalanan) yang ia bangun
  6. Sungai yang ia alirkan.
  7. Sedekah yang ia keluarkan dari harta ketika ia sehat dan hidup.

Semua itu akan dikaitkan dengannya setelah ia mati.โ€ (HR. Ibnu Majah, no. 242; Al-Baihaqi dalam Syuโ€™ab Al-Iman. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dihasankan oleh Al-Mundziri. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Oleh karena kita tidak suka menjadi miskin di dunia, maka begitu pula kita tidak ingin miskin di akhirat. Kita ingin menjadi orang kaya di akhirat. Menjadi orang-orang yang nafasnya telah berhenti namun pahalanya tetap mengalir dan terhitung, itulah hartamu semasa di dunia. Lewat hadits di atas Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menebarkan cintanya agar kita ummatnya dapat merasakan manis buah dari kerja-kerja amal sholih semasa di dunia.

Kawan, jika hidup yang kita rasakan sekarang tidak seindah khayal maka bersabarlah. Sebab harta yang banyak di dunia itu bukanlah tolok ukur kebahagiaan.

Sekali lagi, bukan harta dunia yang bisa anda bawa mati.

Melainkan amalan sholih yang pahalanya tidak berhenti meski nafas terhenti. Inilah harta anda! (SBA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here