Ikhlas artinya memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan juga diartikan; Menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan, dan mengabaikan pandangan orang lain terhadap kita. Ikhlas juga sebagai salah satu syarat diterimanya amal ibadah yang kita lakukan selama ia sesuai Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Allah Azza Wajalla berfirman di Qur’an Surah Al Bayyinah ayat yang ke lima, “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya, lagi bersikap lurus”

Abu Umamah pernah meriwayatkan, bahwa seorang telah bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, dan bertanya, “bagaimana pendapatmu Ya Rasulullah dengan seorang yang berjuang di jalan Allah hanya untuk mendapatkan pujian? Apakah ia mendapatkan pahala? Maka Rasulullah Shallallu ‘alaihi Wasallam menjawab, “ia tidak mendapatkan apa-apa”, dan beliau bersabda,: “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla tidak menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan mengharap wajah-Nya” (HR. Abu Daud).

Diriwayatkan dari seorang yang sholeh berkata pada dirinya sendiri, “Wahai diri, Ikhlaslah, maka engkau akan selamat”. Apabila suatu amal telah tercampuri oleh harapan yang sifatnya duniawi, sesuatu yang sifatnya disenangi oleh hati manusia, sedikit atau banyak, maka, kejernihan amal itu telah tercemari. Disaat itu juga hilanglah keikhlasan. Padahal kebanyakan manusia terlena akan harapan dan juga syahwatnya, Hampir tidak ada suatu amalan yang dilakukan oleh seseorang, bisa benar-benar bersih dari harapan yang sebenarnya tidak begitu berharga, itulah sebabnya pepatah mengatakan, “Barangsiapa yang sesaat dari umurnya telah dengan ikhlas, hanya mengharap wajah Allah, maka ia pasti akan selamat

Resep untuk ikhlas adalah memupus kesenangan hawa nafsu, ketamakan terhadap dunia dan menjadikan hati fokus akan Akhirat. Hal ini akan memudahkan seseorang untuk mendapati keikhlasan dalam hatinya. Banyak orang yang begitu berpayah dalam amalannya, menyangka keikhlasan sudah ada dalam hatinya, tapi ia tertipu. Hal ini terjadi sebab ia tidak memperhatikan perkara yang dapat merusak keikhlasan. Sebagai satu contoh, ada seorang yang selalu menunaikan ibadah sholat di shaf pertama. Suatu ketika ia terlambat, dan ia sholat di shaf yang kedua. Dari sini, ia tahu bahwa ketenangan hati yang didapatkan olehnya saat ini hanya karena pandangan mata manusia kala ia berada pada shaf yang pertama.

Semoga Allah Azza Wajalla menjadikan kita sebagai hamba yang selalu berusaha untuk memperbaiki niat kita dalam melakukan setiap kebaikan, InsyaAllah. Ya’qub berkata, ”Orang ikhlas adalah yang menyembunyikan kebaikan dirinya, ssebagaimana ia menyembunyikan keburukannya”

Semoga bermanfaat,

Tulisan ini kami kutip dari buku Tazkiyatun Nafs karangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here