Berangkatlah pasukan besar Sulaiman ‘alaihissalam yang terdiri atas prajurit tanpa tanding dari bangsa manusia, jin, serta burung. Iringan pasukan ini menjadi termegah di masanya, apatah lagi segala sesuatunya telah Allah azza wa jalla berikan. Setiap ruas jalan dengan tetumbuhan kanan kirinya menjadi saksi akan kebesaran pasukan ini. Ketika terus menyusuri tanah luas tak berpenghuni, Sulaiman tetiba berhenti dan menginspeksi pasukan satu persatu. Semuanya hadir kecuali Hud-hud, burung kecil yang bertugas mencari dan mengarahkan pasukan ke titik mata air, tidak tampak. Tidak biasanya Hud-hud seperti itu.

“Mengapa aku tidak melihat Hud-hud?” geram Sulaiman sebakda inspeksi mendadak. “Apakah ia termasuk yang tidak hadir?” Ia memastikan kealpaan Hud-hud tanpa izin darinya. Demikianlah Sulaiman memberikan perhatian yang besar akan kedisiplinan, mengingat dirinya adalah pemimpin sejumlah makhluk, maka menyepelekan hal ini meski hanya seekor burung akan menimbulkan kekacauan di tubuh pasukan. Akhirnya dengan marah Sulaiman berkata, “Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih dia.”

Hanya saja, Sulaiman bukan sekedar Raja bagi mereka, tapi dia juga seorang Nabi. Maka marahnya ia bukanlah semata karena kehormatan, bukan pula karena kekuasaan sehingga berbuat lalim, semena-mena dan mengadzab dengan berat atas kesalahan kecil. Rahmat tentu menghampiri setiap hati para nabi, begitupun Sulaiman, karenanya ia melanjutkan, “Kecuali jika dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.”

Tidak lama setelah itu Hud-hud datang. Menyadari ketidaksenangan yang tertoreh pada wajah Sulaiman, ia segera menyampaikan maaf serta alasan yang menjadi sebab keterlambatannya. “Aku…” katanya kepada nabi yang juga rajanya, “…telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui.”

“Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa berita yang meyakinkan…” lanjutnya dengan penuh amarah tersebab iman, “Sungguh kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar.” Sulaiman semakin tertarik mendengar cerita dari Hud-hud, terlebih ketika Hud-hud menyampaikan adanya kepincangan aqidah di tengah-tengah mereka.

“Aku menyaksikan dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah.” Hud-hud melaporkan pemandangan kesyirikan yang tengah dilakoni oleh sang Ratu juga rakyatnya. “Sungguh setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuata-perbuatan hina itu. Sehingga menghalangi mereka dari jalan Allah, maka mereka tidak mendapatkan petunjuk.”

Dari sinilah kecemburuan hud-hud bermula. Tubuh kecilnya seolah tak menerima bila saja ada di antara makhluk menjadikan sesuatu selain Allah sebagai tandingan. Seakan-akan Hud-hud berkata; “Ya Rabb! Mengapa manusia sampai bisa meninggalkanMu yang seluruh langit, bumi, dan semua makhluk yang ada padanya berasal dari cahayaMu, padahal martahari dengan cahaya dan kehangatannya tidak lain adalah bagian dari ciptaanMu.”

Subhanallah. Pada hakikatnya Hud-hud ialah makhluk Allah yang beriman kepadaNya. Senantiasa tunduk dan bertasbih mensucikan namaNya. Namun yang terpenting adalah ia memiliki ilmu dan obsesi akan hal samar dari peribadatan yang sejatinya kesia-siaan. Penyandaraan pada jurang yang pasti akan runtuh. Karena luapan kecemburuan itulah yang membawa Hud-hud melangitkan sayap membelah setiap lembah, memerhatikan keimanan manusia yang didapatinya kemudian melaporkannya kepada Sulaiman. Akibatnya, tentu kitapun mengetahui. Kerajaan Saba’ itu masuk Islam. Seluruhnya, mulai pemimpin tertinggi wanitanya hingga rakyat jelata. Mereka telah berhijrah dari syirik menuju tauhid.

Maka Hud-hud telah mengajarkan inspirasi tentang obsesi. Seekor burung kecil yang begitu cinta di jalan dakwah. Lewat obsesi sederhananya seantero negeri telah kembali kepada kebenaran. Yah, berkat insiatif “seekor burung” bernama Hud-hud. Karena itu, jangan pernah remehkan sebuah inisiatif dalam kebaikan meski sederhana. (MA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here