Desir angin semilir memecah keheningan suasana malam. Cahaya redup dari api sumbu lentera mengusir kegelapan di dalam ruang mihrab pengrajin kayu itu. Meski demikian, temaram sinar tersebut terasa lembut dan mendamaikan jiwa. Maka di antara temaramnya cahaya yang menembus celah-celah dinding tampaklah seorang yang telah tua renta sedang merayu memohon kepada Allah dengan khusyuknya. Dalam sujud yang panjang, ia mengiba, seakan berkas cahaya yang memancar dalam ruang sempit itu berasal dari dirinya, bukan dari pelita. Maka andaikan khusyuk adalah orang, mungkin dialah orangnya.

Saat itu, Zakaria, si pengrajin kayu menunduk penuh harap. Ia memikirkan kondisinya yang telah sampai pada usia senja, rambutnya telah tertutupi uban seluruhnya, pundaknya yang telah teramat payah untuk ditegakkan, namun masih jua sendiri tanpa kehadiran seorang anak. Belum lagi, seolah mimpi kian memburuk tersebab istrinya yang mandul dan sulit memiliki keturunan. Jiwanya terus terusik, pikirannya jauh menerawang, bagaimanakah kiranya agama yang didakwahkannya ini sepeninggal dirinya nanti, kekhawatirannya akan terjadi kerusakan di mana-mana oleh kaumnya sendiri. Ia berharap andai saja Allah menganugerahkan seorang anak lelaki agar bisa membawa obor agama setelah kematiannya, melanjutkan estafet dakwahnya menjadi pewaris nubuwah.

Yaa Rabb…” lirihnya dengan penuh kelembutan, “sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban…” Ia tersungkur mengadukan kelemahan kondisinya kepada Allah rabbul ‘alamin. Namun tak lupa ia menyebut karunia Rabbnya, “…dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, ya Tuhanku.”

“Aku benar-benar khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku nanti. Maka anugerahkanlah aku seorang anak dari sisiMu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya’qub; dan jadikanlah dirinya, wahai Tuhanku, seorang yang diridhoi.” Dia terus berada dalam ketundukan, larut di atas sajadah kehusyukan, hingga seluruh jiwa dan hatinya terdekap dalam samudera harap tak bertepi. Di tengah munajatnya itu, tetiba cahaya terang memancar dari mihrabnya. Ia mendengar suara yang sudah biasa ia kenali. Ketika menoleh, betullah dugaannya, Malaikat mulia datang menemuinya sembari berbicara dengan nada yang sangat menarik. Malaikat tersebut menyampaikan sesuatu kepadanya seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan.

“Wahai Zakaria…” seru Malaikat, “Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki bernama Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.”

Malaikat menyampaikan kabar gembira bahwa Allah azza wa jalla mengabulkan pintanya. Ia akan mendapatkan anak yang kelak akan menjadi Nabi, seorang yang shaleh, jujur, dan sangat mampu menahan hawa nafsu. Anak yang begitu istimewa dan kelak akan menjadi pewaris nubuwah darinya. Tiada terkira kegembiraan yang dirasakan Zakaria atas berita ini, sembari bersyukur ia berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak; padahal istriku seorang yang mandul dan aku sendiri telah mencapai usia yang sangat tua?”

Subhanallah… Zakaria telah mengajarkan kepada kita akan luasnya rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, bahwa tidaklah mungkin seorang hamba akan kecewa bila ia gantungkan segala asa dan mimpi kepada Rabbnya. Tidak akan mungkin kecewa mereka yang penuh harap memunajat di hadapan Allah, pemilik segala alam semesta. Maka keajaiban itu adalah keniscayaan, keajaiban itu adalah kepastian.

Oleh karena itu, ketika semangat redup menatap panjang jalan dan ujungnya belum jua tampak. Kala pandangan mulai mengabur sebab tersapu debu yang menempah setiap harapan. Saat wajah tunduk bersedih senduh sebakda payah lemah telah berpeluh namun belum pula berjumpa dengan sinar kemudahan; maka cobalah bersungkur pada sujud yang panjang, berbisik pada bumi yang menghampar dan biarlah angin yang membawanya tinggi menembus lapis-lapis langit.

Larutlah dalam munajatmu, jangan berhenti merayu kepada Allah, sekalipun segala bentuk ketidakmungkinan hadir menghantui pandang-pandang. Sebagaimana Zakaria tidak berputus asa dalam segala kondisi, maka jemputlah keajaiban dengan doa, yang terbaik sedang Allah siapkan untukmu. Berdoalah! Sebab doa itu melawan kemustahilan. (MA)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here