Begitu banyak kemuliaan yang berkumpul pada dirinya. Setelah diteguhkan oleh Allah untuk membersamai hidayah dalam mahligai iman dan Islam, menjadi Bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kiranya cukup menjadikan kemuliaan tersandang untuknya. Yah, bukankah sebuah keutamaan bila menjadi bagian dari keluarga kekasih Allah ini? Namun, tidak hanya sampai di situ, ia pun merupakan saudari dari singa Allah yang terkenal, Hamzah bin Abdil Muththalib. Sekaligus ibunda hawari Rasulullah terkasih, Zubair bin Awwam.

Shafiyyah, demikianlah ayahnya, Abdul Muththolib, memberinya nama. Sosok wanita tangguh yang teramat kuat dalam menjaga teguh keimanannya ini sangat layak dijadikan teladan bagi para muslimah. Lisannya yang fasih menjadikan beliau dikagumi oleh ahli bahasa zaman itu. Ia juga memiliki tekad yang besar, semangat yang membara, ketekunan serta keyakinan yang luar biasa. Begitu jelas tampak sejak dirinya bersama puteranya bergabung dengan bahtera Islam, berlayar menerjang segala ombak fitnah dan gelombang ujian dengan kekuatan iman yang utuh menuju keridhaan Allah dan Rasul-Nya, berjuang menghadapi penentangan kaum Quraisy. Namanya telah terukir dengan tinta emas dalam sejarah bersama para pejuang Islam lainnya.

KESATRIA UHUD

Bukit Uhud menjadi saksi akan ketangguhan dan keberaniannya. Hari itu, meski telah beruban sebab termakan senja oleh usia yang sudah mencapai 56 tahun, tetapi tidak menghalanginya untuk bergabung dengan pasukan kaum muslimin. Bersama muslimah lainnya, dengan penuh semangat ia merawat para mujahidin yang terluka, mengambilkan air minum untuk mereka yang kehausan, serta memungut dan memperbaiki anak panah.

Hingga keadaan seolah tidak berpihak, kemenangan yang semula berada di pihak kaum muslimin berbalik menjadi kekalahan dan kemunduran. Barisan menjadi kocar-kacir, banyak yang mundur dan berlari, tidak sedikit yang bertahan melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari serangan, dan Shafiyah binti Abdil Muththalib termasuk yang bertahan itu. Melihat kondisi yang semakin mendesak sementara perang terus bergejolak, ia tampil ke depan, bukan lagi membawa air, bahkan kini tangannya memegang tombak, sambil menjulangkannya ke langit, terus ia maju bersama pasukan yang bertahan.

Di tengah dentingan pedang-pedang yang membisingkan telinga, ia menjumpai jasad demi jasad syuhada yang terbunuh dengan sadisnya. Ada yang dipotong tangan dan telinganya, ada yang terpisah kepala dan jasadnya, dan kebiadaban lainnya membuat semangat juang Shafiyyah kian bergelora. Sampai ketika ia melihat jasad saudara kebanggaannya dan kebanggaan kaum muslimin, Hamzah bin Abdil Muththalib tergeletak tersapu debu-debu jihad, ia tertunduk. Betapa teramat mengibakan, Hamzah yang tidak hanya telah meraih syahidnya itu, juga telah dirobek dadanya dan dikeluarkan jantungnya oleh musuh.

Melihat kejadian itu, Rasulullah terkasih menitah Zubair bin Awwam untuk menarik mundur ibunya agar tidak semakin mendalam kesedihan melihat kekejaman perang. Akan tetapi, dengarlah jawaban wanita mukminah yang sabar ini, “Mengapa (aku tidak boleh melihatnya), aku telah mendengar saudaraku telah dibunuh secara sadis, dan itu di jalan Allah…”

Subhanallah! Seakan ia ingin berkata, “Semua musibah yang terjadi, bila itu di jalan-Mu ya Allah, aku rela dan ikhlas. Tak mengapa bagiku melihat jasad saudaraku yang dibelah perutnya, diambil jantungnya, hidung, dan telinganya dipotong demi membela agama-Mu ya Allah, aku rela dan sabar, karena aku tahu bahwa Engkau akan menempatkannya pada sebaik-baik tempat di sisi-Mu.”

Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan Shafiyyah melihat jasad Hamzah dan menyalatinya.

PAHLAWAN KHANDAQ

Setiap pergi ke medan juang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan para wanita, orang tua, dan anak-anak di tempat yang paling aman. Begitu pun pada Perang Khandaq, mereka dititipkan di sebuah benteng di atas bukit berpagar kokoh dan kuat milik Hasan bin Tsabit, yang sekaligus ditugaskan untuk menjaga keamanan benteng.

Kala seluruh pasukan telah berbaur dengan gemuruh perang, kaum Yahudi dari Bani Quraizhah berkhianat atas perjanjian damai dengan umat Islam. Mereka dengan liciknya mengutus salah seorang untuk mengintai keadaan muslimah, berharap bisa melakukan penyerangan atau minimal menjadikan muslimah-muslimah itu sebagai tawanan. Dengan demikian, keadaan pasukan Islam bisa terpuruk.

Menyadari ada yang bersembunyi mengendap-endap, Shafiyah yang saat itu terjaga segera mendatangi Hasan dan menyuruhnya untuk menangkap orang tersebut. Namun, Hasan menolak sembari berkata, “Wahai binti Abdul Muththalib, engkau tahu bahwa aku tidak berani melakukannya.”

Tanpa berpikir panjang, Shafiyah segera berpaling masuk ke dalam benteng lalu mencari sebilah kayu. Dibawanya kayu tersebut keluar dan sesigap mungkin ia memukul kepala Yahudi tadi hingga mati. Ia kembali mendatangi Hasan dan memintanya untuk memenggal kepala jasad Yahudi itu. Namun, kembali Hasan berkata, ”Aku tidak berani.”

Keluarlah Shafiyyah dan memenggal sendiri kepala Yahudi tersebut dan melemparnya ke bawah bukit. Melihat kepala temannya menggelinding turun dari atas benteng, nyali orang-orang Yahudi menjadi ciut dan berkata, “Sekarang kami tahu bahwa orang ini (maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak akan meninggalkan keluarganya tanpa ada yang menjaga mereka.”

Subhanallah! Itulah madrasah kemuliaan bernama Shafiyah. Belajarlah darinya kekuatan niat dalam menghadapi persoalan, keteguhan tekad menerjang segala ujian, kesabaran yang tak bertepi di setiap cobaan, dan keberanian berbungkus kecerdasan dalam setiap peristiwa yang terjadi. Ia wafat di masa kekhalifahan ‘Umar bin Khaththab pada tahun 20 H.
Semoga Allah meridhainya dan menempatkannya di Surga Firdaus.

Penulis: Muhtadin Akbar S.Si.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here