hilmi.or.id, Makassar (Muhtadin Akbar S.Si.)— Hari ini, bangsa Indonesia kembali mengenang peristiwa akbar. Tepat 73 tahun yang lalu, para pendiri negeri tercinta ini bermusyawarah berlarut-larut, berpeluh tiada berbilang, untuk merumuskan bersama hal yang akan menjadi dasar dari negara Indonesia kelak.

Maka lahirlah lima sila dasar yang kemudian hari dikenal dengan Pancasila. Terlepas dari segala keburaman sejarah lahirnya, sesiapa saja perumusnya, bagaimana proses mufakatnya, serta kepincangan dalam kewenangan menafsirkannya, Pancasila lahir sebagai ideologi baru yang merdeka dari dua ideologi besar dunia saat itu; kapitalis dan sosial-komunis. Pancasila menjadi poros penengah yang menarik perhatian dunia. Sebuah paradigma baru yang merangkum secara menyeluruh dan sempurna harapan dan cita-cita bangsa Indonesia secara khusus, dan masyarakat dunia secara umum. Terhimpun dalam lima nilai fundamental; kepercayaan akan Tuhan, kemanusiaan, persatuan, keterwakilan permusyawaratan, dan keadilan.

Kepada Media Infokom, Ketua Umum HILMI, Ustadz Muhtadin Akbar  S.Si., mencoba menjelaskan esensi dari setiap sila tersebut.

  • Sila Ketuhanan. Ketuhanan berarti ketundukan pada segala ketetapan Tuhan. Bermakna keberserahdirian di hadapan kerajaanNya yang tiada bercacat. Pula mengakui kelemahan diri bahwa tiada daya lagi upaya melainkan milik Tuhan semata. Pancasila menuntut kita untuk menunggalkan Tuhan. Maka tidak perlu tafshil panjang menjelaskan tafsirnya. Tiada ketimpangan dalam memahami bahwa setiap penduduk Indonesia wajib bertuhan yang Esa.

 

  • Sila Kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan banyak tercoreng tersebab keserakahan bangsa untuk menjajah bangsa lain. Kerakusan menguasai sumber daya dengan merampas telah banyak melanggar hak-kak dasar manusia. Karenanya Pancasila lahir menuntut untuk berkeadilan dan beradab dalam bermuamalah dengan manusia di segala sisi kehidupan.

 

  • Sila Persatuan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga kesolidan, menempatkan kepentingan bersama di atas keegoisan individu. Pancasila menuntun Indonesia untuk menjadi bangsa terdepan maka harus menanggalkan atribut kesukuan, agama dan ras untuk bersama-sama membangun meski berbeda.

 

  • Sila Kerakyatan. Negara Indonesia adalah negara berkedaulatan rakyat. Hal ini harusnya menjadi dasar dari penyelenggaraan Negara. Karena itu, setiap mufakat diambil dengan bersama, bermusyawarah, untuk kepentingan bersama di mana gotong royong dan kekeluargaan menjadi ciri khasnya.

 

  • Sila Keadilan. Pancasila menuntut penyetaraan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa mengenal status sosial, agama, maupun suku. Keadilan menjadi mutlak untuk bisa dirasakan oleh seluruh rakyat.

“Namun, sangat disayangkan seiring bertambahnya usia NKRI tercinta ini, Pancasila kini hanya sebatas kalimat yang dibaca setiap upacara sekolah saja. Pengamalan dan pendalaman nilai-nilai luhurnya sangat jauh dari apa yang diinginkan para pejuang terdahulu.” Ujarnya.

Ustadz Muhtadin Akbar  S.Si. menjelaskan bahwa dewasa ini sangat mudah kita menemukan ketimpangan menyebar di berbagai sisi. Mulai dari berkembangnya paham ketidakyakinan pada Tuhan, meragukan eksistensiNya, dan menanggalkan segala iman pada hari pembalasan dan perkara ghaib.

“Belum lagi, keadilan yang masih sangat jauh dirasakan, terutama oleh rakyat-rakyat pinggiran. Kesenjangan sosial menjadi momok yang sepertinya belum jua berhasil dipecahkan. Bahkan sistem yang ada hanya membuat yang kaya semakin kaya, sedang yang miskin kian tertindas.” Jelasnya.

“Begitupun persatuan Indonesia yang sepertinya tergadaikan oleh kepentingan sekelompok “perampok” rakus negeri ini. Menyudutkan agama tertentu, melontarkan tuduhan-tuduhan keji, memandang ancaman siapa saja yang berseberangan. Padahal seharunya Pancasila adalah pemersatu bangsa, bukan palu gada yang menganggap siapa saja yang berbeda pendapat sebagai anti pancasilais.” Sambungnya.

Diakhir percakapan Ustadz Muhtadin Akbar  S.Si., menutup dengan sebuah kesimpulan:

Di momentum peringatan lahirnya pancasila, bertepatan dengan kemuliaan Ramadhan, kami mengajak kepada seluruh komponen bangsa untuk kembali kepada nilai-nilai luhur pancasila, kembali berpegang pada keimanan yang haq, dan memainkan peran untuk pembagunan negeri, bukan demi kepentingan kelompok sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here