Meskipun belum matang namun organ reproduksi anak remaja sudah memasuki masa puber yang sudah berfungsi, lalu apakah mereka boleh untuk mastirbasi ?

Permasalahan ini memang sering kita jumpai, khsusnya dikalangan para remaja yang berada pada masa-masa pubertas. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor hormon dalam dirinya dan faktor lingkungan sekitarnya. Pada masa ini, sangat penting bagi mereka untuk diedukasi tentang perihal perilaku seksualitas, baik dari orang tua, guru atau lingkungannya. Sebab tidak menutup kemungkinan seorang remaja akan melakukan hal-hal menyimpang sebagai tujuan memenuhi kebutuhan hasrat seksualnya yang terus meningkat. Yang pada akhirnya aktivitas masturbasi (Onani) menjadi hal yang biasa dilakukan oleh kalangan remaja dan dewasa, sebagai bentuk jalan pintas dalam memenuhi hasrat seksualnya.

Pembahasan kali ini, akan meninjau bagaiamana Islam memandang masturbasi (onani).

Pengertian :

Masturbasi (onani) , dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah الاستمناء”, yaitu memaksa keluarnya mani. Atau secara istilah didefinisikan, “الاستمناء” adalah mengeluarkan mani dengan cara selain jima’ (bersenggama) dan cara ini dinilai haram seperti mengeluarkan mani tersebut dengan tangan secara paksa disertai syahwat.

Perantara onani dilakukan dengan tangan,atau cara  bercumbu lainnya, bisa pula dengan pandangan atau sekedar khayalan.Onani dengan bercumbu yang dimaksud adalah seperti dengan menggesek-gesek kemaluan pada perut, paha, atau dengan cara diraba-raba dan tidak sampai terjadi senggama pada kemaluan. Pengaruh onani semacam ini sama dengan onani dengan tangan.

Hukum onani dalam Islam :

Onani dengan hanya sekedar membangkitkan syahwat maka hukumnya haram secara umum. Allah Subhanahu wa taala berfirman :

“Dan orang – orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”

(QS. Al Ma’arij: 29-31)

Pendapat rojih, yang dinukil oleh imam Ahmad  dalam satu pandanganya menyatakan bahwa syahwat tidak selamanya dibendung dengan onani. Dengan sering berpuasa yaitu puasa sunnah akan mudah membendung tingginya syahwat.

Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda :

“para pemuda, barangsiapa yang memiliki baa-ah (kemampuan untuk menikah), maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.” (HR. Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400)

Dari sisi kesehatan, para ahli medis mencatat ada 9 bahaya akibat kecanduan masturbasi (onani).

  1. Ejakulasi dini atau terlalu cepat selesai ketika melakukan hubungan seks yang sebenarnya. Onani, cenderung terburu-buru untuk mencapai orgasme.
  2. Gairah seks yang lemah ketika sudah berumah tangga, karena sudah terbiasa onani.
  3. Onani, akan menyebabkan kebodohan karena selalu membayangkan hal-hal porno atau yang berbau sex.
  4. Badan menjadi kurus dan lemah, karena membayangkan hal negatif dan berpikir hal yang porno-porno.
  5. Sulit menikmati hubungan seks yang sebenarnya bersama wanita. Karena sejak remaja sudah terbiasa merasakan seks secara manual atau onani.
  6. Perasaan bersalah karena terlalu sering onani menimbulkan rasa minder dan tidak percaya diri di lingkungan sosial.
  7. Bagi wanita muda yang senang masturbasi atau onani bisa merobek lapisan hymen keperawanannya.
  8. Mengalami impotensi atau gagal ereksi ketika berhubungan.
  9. Jadi sering melamun dan pikiran selalu negatif membuat adaptasi sosial menjadi terbatas.

Jangan khawatir bagi anda para pecandu masturbasi (onani) , para ulama telah memberikan beberapa tips agar mampu keluar dari problem ini. Hendaklah ia perbanyak do’a, rajin menundukkan pandangan dari melihat yang haram, dan rajin berolahraga untuk menurunkan syahwatnya. Namun jika ia dihadapkan pada dua jalan yaitu berzina ataukah onani, maka hendaklah ia memilih mudhorot yang lebih ringan yaitu onani, sambil diyakini bahwa perbuatan tersebut adalah suatu dosa sehingga ia patut bertaubat, memperbanyak istighfar dan do’a.

Photo by Brando Makes Branding on Unsplash

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here