Menjelang Muktamar 2 HILMI (Himpunan Pelajar Muslim Indonesia) yang akan di adakan pada tanggal 15 sampai 17 Januari 2021 mengangkat tema : “Aktualisasi peran HILMI dalam membangun Indonesia beradab berbingkai kebhinekaan”. Suatu Momentum dakwah yang harus kami lewati bersama.

Kami pun langsung merenung kebelakang, mengevaluasi kembali apa-apa yang telah kami lakukan selama ini. Berawal dari kumpulan pelajar muslim yang mereka namai diri Rohis. Sebuah ekskul sekolah yang bermarkas di mushalla atau masjid sekolah.

Pengalaman berharga dakwah sekolah itu kami pelajari dan memperbaiki diri dan ummat kedepannya. Dari pribadi yang tujuan sekolah untuk mengejar nilai dan ijazah berubah tujuan Allah dan akhirat. Perubahan atas pembinaan intensif di Rohis. Alhamdulillah..

Melalui Rohis dan semacamnya kita melakukan pendidikan pelajar berupa pembinaan intensif baik berupa kajian, ataupun namanya Tarbiyah. Pembinaan intensif yaitu Tarbiyah mengajar para pelajar akan pentingnya agamanya. Menyadarkan segala kekurangan untuk segera diperbaiki.

Dari para murrobbi (pengajar Tarbiyah) melakukan penanaman akidah yang benar. Terhadap akidah Islam baik mengenal Allah, NabiNya, dan Agama. Juga diajarkan pengamalan adab, akhlak, dan praktek ibadah seperti adap menuntut ilmu, perbaikan baca Al-Qur’an, praktek sholat, dan lainnya.

Sehingga para pelajar mengubah orientasi hidupnya yang untuk dunia berubah untuk Allah dan akhirat. Dari pandangan pemikiran juga disesuaikan dengan adab, akhlak, praktek di lapangan. Praktek nyata dengan pengamanan organisasi dakwah (Rohis) kepada pelajar yang telah terbina secara intensif. Menjadi ketua atau pun anggota di sebuah lembaga dakwah akan menjadi pribadi pejuang.

Sehingga dari para aktivis dakwah dari kalangan pelajar ini, merasakan perjuangan membela kebenaran, menyuarakan aspirasi rakyat, dan berdakwah di sekolah masing-masing. Melaksanakan tanggung jawab organisasi dakwah dan juga amanah menjadi murrobbi sekolah dengan adap akhlak keilmuan Islam. Proses ini akan mencetak para pelajar yang berkualitas untuk mengabdi kepada bangsa dan negara..amin InsyaAllah.

Proses pembinaan pelajar ini, belum maksimal dilakukan oleh pihak sekolah itu sendiri. Walaupun sebagian kecil dalam beberapa penilaian orang bisa di katakan pelajar berkualitas. Cobalah telaah kurikulum pendidikan formal kita, dari TK sampai tingkat S-3, maka orientasinya masih kearah keduniaan. Mencari ijazah, nilai yang tinggi, bukan adab, akhlak mulia hasil dari pendidikan. Akibatnya, anak-anak muslim tidak mendapatkan haknya untuk beribadah menjalankan agamanya dengan baik.
Sejarah pendidikan Islam di Indonesia yang dipelopori oleh para ulama mencontohkan tradisi ilmu yang baik. Di masa pemerintahan kolonial Belanda, anak-anak di Jakarta dan sekitarnya, misalnya, biasa mengaji kitab Adabul Insan dan Risalah Dua Ilmu, karya Habib Sayyid Utsman, mufti Betawi. Kitab ini mengajarkan tentang kewajiban mencari ilmu dan bagaimana cara (adab) mencari ilmu yang benar.

Inilah yang mencoba kita praktekkan dalam pembinaan pelajar. Dimana para murrobbi adalah para senior ataupun alumni Rohisnya dengan keikhlasan (tidak digaji) dan gigih mengajarkan ilmu dan mendidik para pelajar. Keikhlasan dan kegigihan para murrobbi itu memiliki peran besar dalam mengawal aqidah dan akhlak pelajar sekolah.

Hanya dengan niat ikhlas mengharapkan keridhoan Allah dari para murrobbi, ilmu yang di ajarkan ke para pelajar akan berkah ilmunya. Ilmunya bermanfaat untuk para mahasiswa. Di mukaddimah Bidayatul Hidayah, Imam al-Ghazali mengingatkan, bahwa jika seorang mencari ilmu supaya dapat pujian dan perhatian manusia, atau supaya dapat menghimpun harta benda dunia, dan niat-niat sejenisnya, maka sungguh ia sedang menghancurkan agamanya sendiri, merusak diri dan gurunya, serta menjual akhirat dengan dunianya!

Adab murrobbi-pelajar!

Ilmu yang manfaat adalah syarat mutlak untuk melahirkan manusia yang baik, manusia mulia; yakni manusia yang bermanfaat bagi sesama; manusia yang menempatkan dirinya sebagai pejuang penegak kebenaran dan penentang kemungkaran (QS 3:110). Ilmu semacam ini hanya lahir dari guru dan murid yang beradab. Tidak heran, jika ribuan kitab tentang adab ilmu ini ditulis oleh para ulama.

Di Indonesia, salah satu buku penting dalam dunia pendidikan yang menjelaskan masalah ini adalah Kitab Ādabul ’Ālim wal-Muta’allim karya K.H. Hasyim Asy’ari. Judul kitab ini sama dengan judul Kitab yang ditulis oleh Imam Nawawi. Dan itu tidak aneh. Sebab, tradisi keilmuan dalam Islam memang mengikuti pola yang pernah disampaikan Umar Ibn Khathab r.a., yakni: ”taaddabū tsumma ta’allamū!” Beradablah kalian, kemudian berilmulah kalian!
Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, misalnya, dikenal memiliki adab yang tinggi dalam mendidik para santrinya. Selain memberikan teladan, beliau juga tak henti-hentinya memberikan motivasi dan inspirasi dalam perjuangan. Sampai-sampai Bung Karno mengakui, ketika berusia 15 tahun, beliau sudah ”menginthil Kyai Dahlan”.

Tokoh Persatuan Islam (Persis), A. Hassan pun, sangat menekankan adab guru-murid dalam pendidikannya. Beliau menulis buku berjudul ”Kesopanan Tinggi”, dan juga diktat berjudul ”Hai Poetrakoe!” (tahun 1946), yang dikaji dalam sebuah disertasi doktor pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Dalam kitab Ādabul ’Ālim wal-Muta’allim, Kyai Hasyim Asy’ari menuliskan rumus: ”Siapa yang tidak mempunyai adab, sejatinya ia tidak bersyariat, tidak beriman, dan tidak bertauhid.” (Hasyim Asy’ari, Ādabul Ālim wal-Muta’allim, Jombang: Maktabah Turats Islamiy, 1415 H).

Dari judul Kitab Ādabul Ālim wal-Muta’allim, bisa dipahami, bahwa penerapan adab harus dimulai dari dunia pendidikan. Guru harus beradab; murid pun demikian! Sebab, itulah pondasi pembangunan manusia mulia dan juga asas untuk membangun bangsa dan peradaban mulia.

Rohis dan HILMI, ikhtiar menuju Indonesia beradab

Kini kami para alumni Rohis membentuk himpunan pelajar muslim Indonesia di singkat HILMI, Menjadi wadah untuk pembinaan pelajar melalui Rohis sekolah. HILMI diharapkan mencetak para murrobbi dan pembina rohis. Dengan pembinaan pelajar yang terus berjalan sampai saat ini, merupakan proses turun temurun yang dilakukan dalam sejarah Islam dan sejarah bangsa Indonesia secara khusus.
Sejarah membuktikan, bahwa konsep pendidikan berbasis adab itulah yang diterapkan selama ratusan tahun di pondok-pondok pesantren, madrasah, dan berbagai lembaga pendidikan Islam di seluruh pelosok Nusantara. Dan memang, inilah sejatinya konsep pendidikan yang diterapkan umat Islam sejak masa Nabi Muhammad saw, yang kemudian melahirkan generasi Sahabat Nabi, generasi Shalahuddin al-Ayyubi, generasi Muhamamd al-Fatih, dan juga Generasi para pahlawan pejuang kemerdekaan tahun 1945.

Wallahu A’lam bish-shawab.

(Terinspirasi dari pidato pertama ust Dr Adian Husaini sebagai ketua umum Dewan Dakwah Indonesia, dengan beberapa perubahan dan tambahan sesuai tema sekolah)

Muhammad Abid Fauzan, S.Pd.I
(Ketua Departemen Dakwah dan Kaderisasi PP HILMI )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here