Disebutkan dalam sebuah hadist,

“Aku sesuai prasangka Hamba-Ku, maka berprasangkalah ia kepada-Ku sesukanya”

Seorang penulis mengatakan, “Berharap adalah material untuk membangun kesabaran dan yang akan membantu orang untuk bersabar. Alasan untuk berharap dan material untuk membangunnya adalah berbaik sangka kepada Allah, karena berbaik sangka kepada Allah adalah jaminan untuk tidak gagal. Sejauh pengamatan saya, tentang watak orang-orang mulia, dapat saya simpulkan bahwa mereka cenderung mengangkat orang bersikap baik kepada mereka, dan malu untuk tidak meluluskan harapan orang yang berharap kepada mereka. Lalu, bagaimana lagi dengan Allah Azza Wajalla yang Maha Dermawan yang tentunya tidak akan kesulitan memberi kepada orang-orang yang mencita-citakan?”.

Contoh kecintaan Allah karena sikap hamba-Nya yang selalu menaruh harap dan menanti pertolongan kepada-Nya adalah bahwa jalan keluar dari kesulitan itu hanya akan datang setelah hamba itu mengalami kebuntuan, setelah tak ahu harus ke mana ia mengarahkan cita-cita dan keinginannya, setelah pintu harapannya tertutup, setelah kehabisan akal, dan setelah tidak tahu lagi bagaimana mengakiri tekanan dan ujian terhadap dirinya.

Untuk apa semua itu? Tak lain adalah agar menjadi pendorong untuk mengarahkan harapannya kepada Allah, dan agar menjadi peringatan untuk terus memperbaiki prasangka baik kepada-Nya.

Tulisan ini terinspirasi dari buku “Laa Tahzan” karangan Syaikh Aidh Al-Qorni Hafidzahullah

Penulis: Ustadz Sultan

Foto Thumbnail:chuttersnap on unsplash

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here