Malam minggu memang selalu menjadi malam terbaik bagi anak muda. Sepekan penuh penat berkutat dengan tugas demi tugas, maka malam minggulah waktu melepas bebas untuk sementara dari semua itu. Sayang, tidak sedikit generasi milenial hari ini justru salah dalam mengisinya.

Sudah menjadi pemandangan biasa, di manapun itu, bergentayangan aktivitas pacaran dan hang out oleh anak muda. Entah di jalan raya, fly over, warung makan, supermarket, bioskop, sampai bawah jembatan dan ujung lorong gelap pun juga ada. Cewek cowok boncengan sambil berpelukan. Ada yang jalan bergandengan tangan kayak abi dan ummi. Ada pula yang ceweknya duduk menyamping di atas motor sedang cowoknya berdiri tepat di depannya, tanpa pelita-gelap gulita. Na’udzubillah.

            Kalau sudah ngumpul, pasti lupa waktu. Begadang semalaman tanpa ada sesuatu yang pasti. Sia-sia. Sama sekali tidak bermanfaat, yang ada justru sebaliknya; maksiat menggunung dosa.

Nah, bagaimana dengan anak rohis? Apa tidak bosan di rumah terus? Yang lain pada keluyuran, kok ini di kamar aja? Sentilan semacam ini biasanya bermunculan. Yah, namanya anak muda. Gejolak untuk bergaul itu selalu ada.

Tapi, anak rohis tidak pernah kehabisan ide. Kreatifitas tanpa batas, selama sesuai syariat, memang sudah menjadi ciri mereka. Bila para awamers punya malam mingguan, maka hijrahers juga punya malam ahadan. Jika mereka senang begadang tanpa manfaat, maka anak rohis juga bisa suntuk semalam mencari rahmat.

Sebuah program yang sering disebut “mabit” ini adalah andalan bagi rohis. Kegiatan untuk membina jiwa, membentuk ruhiyah, dan mentazkiyah hati ini rutin diadakan di akhir pekan. Berkumpul bersama ini tidak hanya sekadar menginap biasa tanpa makna, sebab di dalamnya dipenuhi hal-hal yang diharapkan menjadi pemberat timbangan di akhirat. Apa saja itu?

Shalat Berjamaah. Kegiatan ini selalu didahului shalat berjamaah, magrib dan Isya. Selain punya keutamaan yang luar biasa dalam syariat, hal ini juga bisa melatih untuk hadir dan membiasakan diri shalat tepat waktu bersama imam dan kaum muslimin. Mengawali dengan shalat juga diharapkan kegiatan diliputi keberkahan hingga akhirnya.

Makan Bersama. Untuk yang satu ini tidak boleh ketinggalan. Waktu jeda antara magrib dan isya dimanfaatkan dengan menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni makan berjama’ah. Baiknya gunakan nampan yang agak besar agar bisa senampan berlima, tujuannya agar ukhuwah lebih dalam terasa. Keakraban juga bisa lebih kental diraih bila sela-sela makan diisi kelakar ringan dan sapaan.

Tilawah Al Qur’an. Nah sebakda shalat isya, biasanya diisi dengan tilawah Al Quran, peserta maibit bergantian membaca ayat demi ayat. Pembina yang hadir turut menyimak dan membenarkan setiap tartil yang keseleo dari tajwidnya. Biasanya setiap peserta dapat giliran setengah halaman. Disamping membenarkan bacaan, bagian ini juga dapat melembutkan hati. Karena diantara sebab lembutnya hati adalah dengan mentartil kalamullah.

Nasihat Malam. Lepas menilawahkan kitabullah, selanjutnya adalah nasihat malam. Dibawakan oleh seorang ustadz, guru agama, atau murabbi Pembina rohis. Materi sebaiknya mengangkat penggalan sirah Nabi, sahabat, atau kisah-kisah heroik para salaf terdahulu. Kurang lebih 30 menit sudah cukup untuk sesi ini. Diakhiri dengan mendulang hikmah dari kisah yang dibacakan. Hal ini menjadi penting sebab mentazkiyah hati dengan kisah adalah metode qur’aniyah yang dewasa ini banyak ditinggalkan. Akibatnya banyak pemuda islam yang tidak mengenal sejarah agamanya sendiri.

Tanya Ustadz. Yang satu ini menjadi yang paling ditunggu anak rohis biasanya. Sesi di mana setiap peserta diizinkan bertanya seputar masalah yang dihadapinya, boleh masalah pribadi, problem kontemporer, atau yang lainnya. Bila di kelas dan di tarbiyah, semua pertanyaan tidak mampu diutarakan dan dijawab semuanya, maka mabit adalah solusinya. Inilah indahnya islam, saling menasihati dengan ilmu yang shahih.

Shalat Malam. Jujur saja, karena maksiat yang banyak seringnya kita sulit bangun shalat malam sendiri di rumah kan? Walaupun kita tahu berlimpah pahala dijanjikan Allah bagi yang mampu mendirikannya, tapi tetap saja sulit. Nah, di mabit inilah kita berlatih bangun. Sekurang-kurangnya malam itu kita bisa semalam suntuk mengetuk pintu rahmat Allah yang sedang turun ke langit bumi.

Kultum Shubuh. Sebakda shalat malam, tidak melanjutkan tidur yang sempat tertunda yah. Namanya juga semalam suntuk, maka dilanjutkan hingga shalat shubuh lalu kultum setelahnya. Siapa yang menyajikannya? Baiknya peserta mabit. Hitung-hitung pelatihan da’i sebelum naik ke mimbar asli. 7 menitan cukuplah.

            Olahraga Pagi. Lebih tepat bila kegiatan ini ditutup dengan olahraga pagi. Karena semalam sudah men-charge full hati dengan iman, maka paginya melengkapi nutrisi raga dengan latihan fisik. Komplit bukan?

Subhanallah, rangkaian kegiatan di atas bisa dibilang telah lengkap sempurna. Ibarat makanan, sudah memenuhi gizi empat sehat lima sempurna. Dunianya dapat, apalagi akhiratnya. Begadangnya bermanfaat, menjadi pemberat amal di timbangan akhirat. Kamu anak rohis? Kuy mabit…

Penulis: Ustadz Muhtadin Akbar S.Si.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here