Pada suatu saat ada seorang anak yang berumuran kelas 6 SD. Kala itu, disekolahnya akan diadakan acara perpisahan. Untuk mengikuti kegiatan tersebut setiap anak diwajibkan membayar Rp. 150.000,00. Mendengar kabar tersebut, ia menyampaikan kepada ayahnya, seraya berkata, “bapak, saya mau pergi perpisahan dan untuk pergi, harus bayar Rp. 150.000,00”. “Kalau begitu nak, minta dulu sama Allah baru minta sama bapak” balas sang ayah. Setelah mendengarkan nasihat sang ayah, maka setiap kali ia sholat, setiap itu juga dia berdoa kepada Allah agar diberikan untuknya uang untuk bisa ikut pada acara perpisahan tersebut. Hari berlalu hingga sehari sebelum keberangkatan perpisahan itu, ayah dari anak ini, memberi uang kepada anaknya, tapi, pesan ayahnya,

“Nak, uang ini untuk temanmu yang tidak bisa pergi”.

Awalnya ia bahagia karena dia merasa bahwa doanya selama ini telah dikabulkan oleh Allah Azza Wajalla, tapi ternyata uang itu untuk temannya yang ingin pergi tapi tak mampu. Ia pun pergi kesekolahnya dan memenuhi amanah dari ayahnya.

Semalam sebelum hari keberangkatan, anak ini bertanya kepada ayahnya perihal keberangkatannya, maka ayahnya menjawab, “nak, jika Allah menakdirkan kita untuk pergi, maka bayar atau tidak bayar engkau pasti akan pergi, dan begitu juga sebaliknya, kalau Allah tidak takdirkan kita pergi maka bayar tidak bayar pasti tidak pergi”. Esok tiba, ia pun berkemas untuk keberangkatannya, dan berharap dia akan pergi sekalipun belum membayar. Ketika telah sampai di sekolah, ternyata setiap siswa di cek pembayarannya sebelum naik di bus. Tiba giliran anak ini, karena belum bayar dia tidak diizinkan oleh gurunya untuk ikut. Ia pun bersedih tatkala melihat bus mulai berangkat dan ia tidak berada di dalamnya. Ditengah kesedihannya, sebuah mobil singgah didepannya. Ternyata yang berada di dalam mobil itu adalah temannya yang berangkat dengan mobil pribadi, dan ia di ajak untuk bersamanya pergi rekreasi. Tidak hanya itu, selama perjalanan, ia juga di traktir. Setelah ia pulang dan sampai ke rumah, ia segera bertemu dengan ayahnya untuk mecerikan semua yang dialaminya. Dan terakhir, ia mengatakan kepada ayahnya, “Bapak, apa yang kita sampaikan itu benar”.

Dari kisah diatas, begitu banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan, satu diataranya, selama kita masih mengangkat tangan untuk berdoa kepada Allah, maka selama itu juga tidak ada rasa berputus harap kepada Allah.

Tulisan ini terinspirasi dari Ustadz Bahrun Nida, Lc. Hafidzahullah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here