Oleh : Chusnul Muhammad Haris

Mahasiswa Islamic University Of Madinah al-Munawwah, KSA.

Makassar, 29 Ramadhan 1442 H

Islam telah mengatur secara kompleks tatanan kehidupan kaum muslimin. Bahkan, kesempurnaan sistemnya juga dirasakan oleh seluruh ummat manusia. Tidaklah heran, mengapa Islam menjadi Millah (bukan hanya sekedar agama) yang terdepan dibandingkan dengan semua ajaran yang ada. Karena di dalamnya, bukan hanya sekedar seruan untuk beribadah secara teoritas namun bagaimana implementasi dari ibadah yang disyari’atkannya itu mewarnai kehidupan dan keseharian individu yang memeluknya.

Keistimewaan individu yang memeluknya atau yang menjadikannya sebagai suatu ajaran satu-satunya, adalah individu yang (dalam hal ini seorang muslim) mengilmuinya dan mempelajarinya secara mendalam, disertai dengan keimanan yang kokoh lagi mengharapakan ganjaran pahala dari Allah ta’ala, Sang Pemilik dan Pencipta syari’at ini. Muslim yang beriman, tidak akan menjalankan suatu ‘ibadah yang tidak diperintahkan untuknya. Ilmu yang mereka tuntut akan memberikan mereka pemahaman dan petunjuk kepada apa saja yang diperintahkan untuknya maupun yang dilarang. Cara pandang mereka dalam menyikapi persoalan duniawi itu terhias dengan apa yang dikonsepkan oleh ajaran Islam. Sehingga mereka mengerti dan mengetahui secara strategis, mana ‘ibadah yang memiliki ganjaran pahala yang luar biasa dan mana yang tidak atau biasa-biasa saja. Tentunya, ‘ibadah yang dimaksudkan adalah ‘ibadah yang didefinisikan oleh para ‘ulama bahwasanya apa saja yang dicintai oleh Allah ta’ala dan diridhai-Nya, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, baik secara Nampak maupun tidak Nampak.

Melihat para pemeluk ajaran Islam juga sama dengan pemeluk ajaran agama yang lain, dari segi golongan individu masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia. Kesemuanya memiliki perbedaan pola pikir dalam menyikapi persoalan dunia atau urusan-urusan kehidupan mereka. Namun yang menarik adalah, pada fase remajalah pola berpikir kritis mulai aktif. Keingintahuan sudah mulai muncul dari dalam jiwa mereka. Bahkan boleh jadi, semangat mereka dalam menelaah dan mengkaji sesuatu bisa mengalahkan rasa apatisme dan individualism yang dimiliknya.

Berbicara tentang pemuda, Pelajar dan Mahasiswa. Ya benar, pelajar dan Mahasiswa sebagai potret pertama yang mewakili golongan masyarakat kedua setelah anak-anak dan fase dimana pemuda mulai berpikir krtis. Awal berkembangnya diri dan potensi diri terlihat pada golongan ini. Pelajar dan Mahasiswa merupakan golongan individu yang dituntut aktif berkontribusi dalam membangun bangsa dan Negara. Tidak luput dari wawasan ilmu dan kuwantitas mereka dalam memperkaya diri mereka dengan berbagai reverensi ilmu pengetahuan, menempatkan mereka pada posisi yang tidak pantas untuk dianggap remeh. Bahkan, sampai kepada ilmu pengetahuan agama pun juga mereka mendalaminya.

Namun yang menjadi persoalan ialah ketika ilmu yang dituntut oleh mereka, tidak menjadikan mereka sebagai cerminan bagi masyarakat. Salah satu problema yang terjadi adalah ketika mulai memperkaya diri dengan ilmu dari berbagai macam referensi yang ada, membuat mereka berada pada titik dimana terkadang bahkan sebagian besar dari mereka mudah menganggap remeh suatu persoalan, merendahkan individu atau kelompok lain, egoisme yang menyelimuti demi kepentingan mereka yang ingin dipenuhinya. Hal ini menjadikan mereka terkadang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Lebih mengkhwatirkannya lagi, tidak sedikit pelajar dan mahasiswa muslim yang terkadang terjebak dari kegagalan berpikir dan berjiwa kritis yang terlalu jauh sehingga apa yang seharusnya diharapkan dan yang tergambarkan dari nilai dan norma keislaman tidak terlihat. Hal ini disebabkan oleh mereka yang memperkaya diri dengan ilmu, lupa dengan memperkaya jiwa mereka dengan akhlak dan adab islami. Sehingga timbul dari mereka beberapa penyimpangan baik dari segi teori, social dan agama. Yang paling nampak dari penyimpangan mereka adalah tawuran antar kelompok atau individu, aksi demokrasi yang menimbulkan bentrok, pelanggaran terhadap kebijakan hukum disebabkan hilangnya kepercayaan, dan penyimpangan norma social dan agama seperti hilangnya saling menghargai dan menyayangi antara junior dan senior (senioritas), juga kepada orang yang lebih tua tidak mereka hargai dan muliakan, bahkan yang lebih parah, syari’at agama hanya menjadi teori bagi mereka dan tidak menjadi praktik bagi kehidupan keseharian mereka.

Islam menggambarkan sebuah generasi pembaharu yang diharapkan oleh Allah ta’ala sebagai generasi berilmu yang penuh hikmah tidak hanya sekedar untuk diri mereka sendiri, namun menjadi santapan bagi orang lain, yang terhias dengan perangai akhlak dan adab mereka yang mulia, yang dalam islam mereka disebut sebagai generasi Rabbani.

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang muhkam (jelas),

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

Tidak layak bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Kitab, hikmah, dan kenabian, lantas ia mengatakan kepada manusia, ‘Jadilah kalian penyembahku, bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi, harusnya ia mengatakan, ‘Jadilah kalian orang-orang Rabbani karena kalian selalu mengajarkan Kitab dan senantiasa mempelajarinya.’” (QS. Ali-‘Imran : 79)

Ditinjau dari tinjauan bahasa, Ibnul Anbari menjelaskan bahwa, kata ‘rabbani’ diambil dari kata dasar Rabb, yang artinya Sang Pencipta dan Pengatur makhluk, yaitu Allah. Kemudian diberi imbuhan huruf alif dan nun (rabb+alif+nun= Rabbanii), untuk memberikan makna hiperbol. Dengan imbuhan ini, makna bahasa ‘rabbani’ adalah orang yang memiliki sifat yang sangat sesuai dengan apa yang Allah harapkan. Kata ‘rabbani’ merupakan kata tunggal, untuk menyebut sifat satu orang. Sedangkan bentuk jamaknya adalah rabbaniyun.

Terdapat beberapa riwayat, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in, tentang definisi istilah: “rabbani”. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu, beliau mendefinisikan “rabbani” sebagai berikut: Generasi yang memberikan santapan rohani bagi manusia dengan ilmu (hikmah) dan mendidik mereka atas dasar ilmu. Sementara Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma dan Ibnu Zubair mengatakan: Rabbaniyun adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya.

Qatadah dan Atha’ mengatakan: Rabbaniyun adalah para fuqaha’, ulama, pemilik hikmah (ilmu).

Imam Abu Ubaid menyatakan, bahwa beliau mendengar seorang ulama yang banyak mentelaah kitab-kitab, menjelaskan istilah rabbani: Rabbani adalah para ulama yang memahami hukum halal dan haram dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Dari semua keterangan di atas, dapat diambil sebuah benang merah bahwa semua ulama yang menjelaskan tentang pengertian istilah rabbani, mereka sepakat bahwa label ‘rabbani’ hanya digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki sifat-sifat berikut: Pertama, berilmu dan memiliki pengetahuan tentang al-Qur’an dan sunnah. Kedua, mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya. Ketiga, mengajarkannya kepada masyarakat. Sebagian ulama menambahkan sifat keempat, yaitu mengikuti pemahaman para sahabat dan metode mereka dalam beragama. Karena sahabat merupakan standar kebenaran bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kurang dari salah satu diantara sifat di atas, tidak dapat disebut seorang rabbani. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnul Arabi, ketika ditanya tentang makna ‘rabbani’, beliau mengatakan: Apabila seseorang itu berilmu, mengamalkan ilmunya, dan mengajarkannya maka layak untuk dinamakan seorang rabbani. Namun jika kurang salah satu dari tiga hal di atas, kami tidak menyebutnya sebagai seorang rabbani. (Miftah Dar as-Sa’adah, 1/124).

Dari yang digambarkan dan dijelaskan oleh para generasi sholih terdahulu, menunjukan kesimpulan ‘ilmu yang baik pasti akan menghasilkan akhlaq yang terpuji. Problematika generasi muda saat ini adalah krisis moral dan etika. Sebagai pelajar dan mahasiswa, yang menjadi contoh penggerak pertama yang mewakili golongan remaja di kehidupan bermasyarakat sejatinya mengedepankan adab kemudian ‘ilmu yang mereka miliki. Apalagi bagi pelajar dan mahasiswa muslim yang semestinya menjadi simpul perekat antara dirinya dengan teman-teman mereka melalui ilmu dan adab islami yang dimilikinya. Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata,

ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” –

Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,

تعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

 Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Karena dari situ beliau banyak mempelajari adab, itulah yang kurang dari kita saat ini. Imam Abu Hanifah berkata,

الْحِكَايَاتُ عَنْ الْعُلَمَاءِ وَمُجَالَسَتِهِمْ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ الْفِقْهِ لِأَنَّهَا آدَابُ الْقَوْمِ وَأَخْلَاقُهُمْ

“Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” (Al Madkhol, 1: 164)

Di antara yang mesti kita perhatikan adalah dalam hal pembicaraan, yaitu menjaga lisan. Luruskanlah lisan kita untuk berkata yang baik, santun dan bermanfaat. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,

من عدَّ كلامه من عمله ، قلَّ كلامُه إلا فيما يعنيه

“Siapa yang menghitung-hitung perkataannya dibanding amalnya, tentu ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat” Kata Ibnu Rajab, “Benarlah kata beliau. Kebanyakan manusia tidak menghitung perkataannya dari amalannya” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 291).

Sungguh, Pelajar dan Mahasiswa yang diharapkan saat ini ialah pelajar dan mahasiswa rabbani yang digambarkan kebiasaanya oleh para ulama dan orang-orang shalih terdahulu. Ilmu pengetahuan yang mereka miliki, terhias dengan akhlak mulia, sehingga menjadikan mereka hikmah dalam pengabdian, kontribusi yang mereka berikan kepada ummat dan bangsa bisa diterima di setiap hati masyarakat. Dan ini jelas menjadi jawaban dari problematika ummat yang menjangkiti generasinya agar pembinaan mereka juga tidak hanya sebatas penyajian ilmu semata namun yang terpenting bagaimana integritas mereka serta adab yang dimilikinya menjadi pion yang mengendalikan tindakan dan keputusan mereka ketika diperhadapkan dengan persoalan-persoalan yang sifatnya dinamis (berubah-ubah) dan sebagai tameng bagi diri mereka dalam menghadapi beratnya tantangan global dan pengaruhnya. Wallaahu ta’ala a’lam bish-showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here