Sobat, era digital sekarang ini, media sosial seakan menjadi teman kita yang paling akrab. Maka tidak mengherankan jika dimanapun kita berada, dengan mudah kita menemukan orang-orang yang berselancar di media sosial. Tahu tidak? data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengemukakan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia telah  mencapai 132,7 juta. Dari jumlah tersebut, 3 konten yang paling sering di akses adalah media sosial, hiburan, dan berita. Dan 97,4% diantaranya mengakses media sosial. Tidak hanya itu, bahkan Indonesia menjadi negara yang ke-4 paling aktif dalam penggunaan sosial media di dunia.

Dari jumlah yang begitu signifikan dalam hal penggunaan sosial media, sebagian orang menggunakan sosial media dengan bijak dan positif seperti berbisnis, berjejaring, berbagi informasi dan tak sedikit kita temukan diantara mereka ada yang menggunakan sosial media sebagai lahan pahala. Instagram, facebook, twitter, line, bahkan whatsapp menghadirkan banyak kemudahan bagi kita untuk saling berjejaring dan meningkatkan kualitas kehidupan kita; di era digital seperti sekarang ini. Namun layaknya pisau bermata dua, media sosial juga mampu menggemparkan pada sisi yang lain, menjadi alat yang begitu ampuh untuk menebarkan kebencian. Dan tak jarang, melalui media sosial terjadi pertikaian hebat, kejahatan dan bahkan tindak terorisme. Isu SARA dan tindak propaganda kebencian menjadi bukti yang paling shahih, saling berbalas pesan seakan-akan kebencian berkedok nasehat dan tertangkapnya sindikat jaringan Saracen yang diduga bekerja untuk membuat hoaks dan semacamnya. Untuk itu, dalam menyikapi hal demikian, ada beberapa cara sederhana yang bisa teman-teman lakukan agar kita bisa menjadi pribadi yang bijak dalam menggunakan media sosial.

Pertama, hindari menggunakan media sosial ketika emosional. Mengapa demikian ? Sebab ketika kita sedang emosional, kita dengan mudahnya melakukan suatu tindakan yang dianggap ngawur dan  tidak rasional. Terlebih lagi ketika seseorang dalam keadaan emosi menggunakan sosial media sebagai ajang pelampiasan kekesalan, implikasinya sangat buruk. Tanpa berpikir dua kali terhadap dampak yang mungkin terjadi. Sehingga tanpa sadar bisa merugikan diri sendiri. Belum lagi jika kekesalan itu ditunjukkan dengan menghina atau bahkan mencela orang lain, yang dianggap sebagai ujaran kebencian. Untuk itu teman-teman yang budiman, sangat perlu untuk kita sadar dan tidak tersulut emosi dalam penggunaan media sosial.

Kedua, cermati isi konten Dikarenakan hal ini adalah perihal yang paling sering dikeluhkan, terutama ketika begitu banyak pesan broadcast yang tersebar di grup-grup whatsapp (WA) maupun media sosial lainnya. Untuk itu sobat, penting untuk kita mencermati isi konten yang menghampiri kita dan tidak gegabah dalam menyimpulkan, apalagi jika konten tersebut secara jelas bernada kebencian, atau kekeliruan, maka perlu dengan kelembutan dan penuh kehati-hatian kita meluruskan suatu kesalahan, apatah lagi kita mengenal si pengirim tersebut.

Ketiga, tidak membagikan informasi yang belum jelas. Fenomena copy paste memang menjemukkan dan tak jarang membuat kita begitu kesal dalam menyikapinya, apalagi jika informasi yang tersebar simpang siur. Maka cara sederhana untuk mengatasinya adalah dengan tidak turut menyebarkan informasi tersebut. Jika suatu saat kita  mendapatkan berita yang demikian, maka selalu cek kebenaran informasi tersebut, dan lagi-lagi jangan gegabah dalam bersikap. Maka perlu kita perhatikan dengan baik, apakah betul penulis informasinya sudah jelas, lalu sumber yang menyampaikan informasi itu valid atau tidak, dari sumber media yang kredibel atau bukan dan seterusnya. Dari tiga tips atau cara ini semoga bisa menjadi modal awal kita dalam berperilaku dalam menggunakan media sosial. Sampai jumpa di lain kesempatan.(UM)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here