Oleh  Muh. Abid Fauzan, S.Pd.I

Biasanya sebagai pelajar akan dihadapkan dengan ujian, bisa saja setiap hari adalah ujian. Namun yang membuat khusus adalah tiap tahun sebagian siswa akan mengikuti ujian sekla nasional. Ujian sekala nasional kini disebut UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Karena sudah diputuskan mulai tahun ini 2017, ujian kelulusan tidak lagi dinamakan UN tetapi diganti dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Ujian Nasional tidak lagi “seangker” Ujian kelulusan tahun dulu. Hal ini terlihat dari teknik pelaksanaannya. Dulu, dari proses pengambilan ke dinas kabupaten, harus ada polisi yang mengkawal, belum lagi dari intel dan para wartawan. Ini seperti mengindikasikan bahwa lembar UN seperti tak ubahnya bak barang yang sangat berharga, layaknya barang mewah seperti emas dan sekelas kepala negara.

 

Namun kini tidak perlu lagi lembaran-lembaran soal lagi karena telah ada di dalam komputer dan di jawab pula dalam komputer. Mungkin ini akan sedikit meringankan para pelaksana ujian. Kemudahan teknologi ini dalam ujian, harusnya tetap menjaga nilai-nilai dalam ujian tersebut. Salah satu yang penting adalah nilai kejujuran.

 

Kejujuran sesungguhnya, bukanlah karena takut atau malu sama orang lain. Tapi jujur karena malu pada Allah ta’ala diri sendiri. Di sinilah juga terbentuk karakter percaya diri. Kadang-kadang siswa tergoda untuk menyontek bukan karena tidak bisa tapi karena kurang percaya diri. Sebenarnya dia bisa menjawab dengan benar. Hanya saja butuh konfirmasi dari orang lain dengan cara melihat jawaban temannya.

 

Setiap ujian sekolah haruslah menanamkan karakter bagi siswanya. Setiap siswa haruslah memahami dengan benar tujuan dari ujian. Mengikuti ujian bukan sekedar dapat nilai yang membanggakan tapi ada nilai kejujuran yang lebih dibanggakan. Kita semua haruslah memahami bahwa nilai 0 yang jujur lebih baik daripada nilai 100 yang curang.

 

Kejujuran merupakan sifat yang mulia. Jujur  adalah harga diri yang paling tinggi. Manusia yang sudah hilang karakter jujur dari dirinya adalah manusia yang sudah tidak berharga lagi. Dia sudah kehilangan segalanya. Tidak ada lagi yang bisa dipegang darinya. Pepatah Bugis mengatakan “yang bisa dipegang dari binatang adalah ekornya. Yang bisa dipegang dari manusia adalah kejujurannya”.

 

Satu hal yang lebih penting dari itu semua adalah membangun kejujuran berbasis Ilahi (ketuhanan). Berbuat jujur bukan karena malu pada orang lain dan diri sendiri saja tapi malu pada Allah yang Maha Melihat dan Menyaksikan segala perbuatan manusia. Juga disertai rasa takut jika melakukan kemaksiatan di dunia kelak akan dibalas di akhirat.

 

Proses ujian di sekolah diharapkan dapat tumbuh alarm jujur di jiwa siswa. Alarm itu akan aktif bukan hanya saat ujian di sekolah tapi juga saat menghadapi ujian kehidupan. Apalagi kelak saat menjadi pemimpin yang harus mengambil keputusan, dia tetap mampu berlaku jujur dalam kondisi apapun.

 

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).

“Tetapi jikalau mereka berlaku jujur pada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”.(QS Muhammad :21)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here